Pergeseran Mitologi Pesantren di Era Modern (Bagian 1) - Pondok Pesantren Futuhiyyah

Breaking

Random posts

Rabu, 30 Mei 2018

Pergeseran Mitologi Pesantren di Era Modern (Bagian 1)


Oleh Akhmad Arif Junaidi

Dekan Fakultas Syariah UIN Walisongo Semarang, Alumni Futuhiyyah


Masalah utama dari kajian ini adalah mencari akar, pola, dan fungsi keyakinan mengenai karamah kiai pesantren Futuhiyah Mranggen Demak dan sejauh mana pergeseran mitologi yang terjadi di kalangan masyarakat sejalan dengan perubahan masyarakat di era modern ini. Kajian ini merupakan kajian lapangan. Paradigma yang digunakan adalah kualitatif karena kajian ini berupaya menemukan makna. Adapun penemuan dari kajian ini adalah bahwa kehidupan kiai di pesantren Futuhiyah Mranggen juga diliputi mitos kiai, dalam makna keyakinan bahwa kiai memiliki karamah.

Latar Belakang Masalah

Perkembangan sebuah pesantren bukan hanya ditentukan oleh sejauh mana penguasaan kiai pengasuhnya atas ilmu-ilmu keislaman, melainkan juga oleh seberapa besar kharisma yang dimilikinya. Ketinggian kharisma seorang kiai biasanya banyak bersumber dari mitos-mitos kekiaian. Mitos kekiaian yang dimaksudkan di sini adalah kepercayaan yang menyatakan bahwa seorang kiai memiliki karāmah, taraf spiritualitas yang sangat tinggi dan memungkinkannya dapat melakukan sesuatu yang luar biasa serta mampu melampaui pengalaman manusia pada umumnya.


Setidak-tidaknya itulah gambaran awal yang bisa dibaca dari Pesantren Futuhiyyah, sebuah pesantren yang terletak tidak jauh dari pasar Mranggen, sebuah pasar di kota kecamatan dalam wilayah administratif Kabupaten Demak yang terletak di sebelah timur Kota Semarang. Pesantren ini didirikan pada awal abad ke-20 oleh seorang ulama setempat yang bernama K.H. Abdurrahman bin Qashid al-Haqq, salah seorang murid dari guru kenamaan Tarekat Qadiriyyah wa Naqsyabandiyyah, K.H. Ibrahim Yahya dari Brum-bung. 

Pesantren yang semula hanya berupa mushalla kecil ini pun berkembang pesat ketika anak-anak K.H. Abdurrahman, yaitu K.H. Utsman, K.H. Muslih, K.H. Murodi dan K.H. Ahmad Muthohar, telah beranjak dewasa dan ikut membantu pengembangan pesantren setelah beberapa tahun sebelum-nya menimba ilmu di beberapa pesantren di Jawa dan di Makkah, Saudi Arabia.


Pesantren Futuhiyyah kemudian berkembang menjadi pesantren induk dari beberapa pesantren cabang yang ada di sekitarnya. Ada lima pesantren cabang yang berada di bawah naungan Pesantren Futuhiyyah, yaitu Pesantren Al-Mubarok, Pesantren Al-Amin, Pesantren Al-Nur, Pesantren K.H. Murodi dan Pesantren Raudlah al-Tholibin. Di samping lima pesantren cabang ini, masih ada satu lagi pesantren cabang yang berada di Lampung, Sumatera.

Pesantren yang semula hanya dihuni beberapa orang santri ini pun menjadi tempat tujuan belajar bagi ribuan santri dari hampir seluruh pelosok Indonesia. Bahkan, ada beberapa santri yang berasal dari negara-negara tetangga seperti Malaysia dan Brunai Darussalam juga ikut menetap di pe-santren tersebut. Pesantren ini bertambah “kebanjiran” peminat setelah dibukanya sekolah-sekolah umum di dalamnya.


Perkembangan Pesantren Futuhiyyah yang sedemikian pesat tersebut tentu tidak bisa dilepaskan dari figur para kiai pendiri dan pengasuh pesantren tersebut. Para kiai pendiri dan pengasuh pesantren tersebut bukan hanya dikenal sebagai figur yang memiliki kedalaman dan penguasaan ilmu-ilmu keislaman yang mumpuni, melainkan juga dikenal memiliki karāmah, yaitu sebuah kepercayaan mitologis yang menyatakan bahwa seseorang memiliki taraf spiritualitas yang sangat tinggi yang memungkinkannya dapat melakukan sesuatu yang luar biasa dan mampu melampaui pengalaman manusia pada umumnya.


Kalangan Pesantren Futuhiyyah mempercayai bahwa K.H. Abdur-rahman, pendiri dan generasi pertama pengasuh pesantren tersebut, memiliki karāmah yang luar biasa. Sebagai murid kesayangan K.H. Ibrahim dari Brumbung, dia dianggap mewarisi sepenuhnya karāmah yang dimiliki guru-nya. 

Dalam sebuah pendadaran, semacam ujian spiritual yang harus dilalui setiap murid, K.H. Abdurrahman menjadi satu-satunya santri yang lulus ujian tersebut. Dia mampu menaklukkan seekor ular besar jadi-jadian (daden-daden) yang mengamuk di masjid tempat di mana ujian pendadaran tersebut dilaksanakan. Kemampuannya untuk lolos dalam ujian pendadaran inilah yang membuat sang guru mengangkatnya sebagai murshid tarekat Qadiriy-yah wa Naqsyabandiyyah.


Kalangan pesantren Futuhiyyah juga mempercayai bahwa para kiai generasi kedua pengasuh pesantren, yang tidak lain adalah anak-anak K.H. Abdurrahman, juga memiliki karāmah. K.H. Muslih, salah seorang anak K.H. Abdurrahman, memiliki banyak karāmah yang jarang dimiliki oleh orang lain. Kiai yang menjadi guru kenamaan Tarekat Qadiriyyah wa Naqsyabandiyyah ini konon pernah bertemu dengan—atau ditemui oleh—Nabi Khidzir, seorang nabi yang dalam kalangan Muslim tradisional dipercayai masih hidup hingga sekarang. K.H. Muslih juga memiliki karāmah yang lain, berupa ke-mampuan untuk menundukkan kesaktian orang lain. 

Karāmah tersebut ditunjukkannya ketika pada masa perang kemerdekaan, ada seorang perempuan sakti yang melakukan kegiatan spionase untuk kepentingan militer Belanda. Atas perintahnya, perempuan sakti yang konon kebal senjata ter-sebut akhirnya dengan mudah disembelih.


Karāmah juga dimiliki oleh kiai lain di lingkungan Pesantren Futuhiyyah. K.H. Utsman, kakak kandung K.H. Muslih, konon mampu mengalahkan lawan-lawannya dengan mengeluarkan semburan api dari dalam surban yang selalu dipakainya. Dia juga dikabarkan memiliki kemampuan bela diri pencak silat pada tataran yang sangat tinggi. 

Sementara K.H. Murodi, adik kandung K.H. Muslih, dikabarkan mampu menundukkan jin dan makhluk halus lainnya. Dia juga dikabarkan telah berhasil melampaui jadhab, sebuah proses spiritual untuk masuk dalam tataran kewalian, sebanyak sembilan kali. Pada saat jadhab ini, kiai tersebut dikabarkan mampu memahami bahasa dan perilaku binatang.


Seiring dengan perubahan sosial yang terjadi di era modern dalam konteks kekinian, terjadi fenomena pergeseran mitos kekiaian di Pesantren Futuhiyyah. Meski kalangan pesantren tersebut masih mempercayai bahwa para kiai pengasuh pesantren generasi ketiga yang saat ini mengasuh pesantren juga memiliki banyak karāmah, namun terdapat perbedaan pola-pola karāmah yang dimiliki oleh para kiai pengasuh pesantren tersebut. 

Bila karāmah yang dimiliki oleh para kiai generasi pertama dan kedua lebih banyak mengacu pada kemampuan-kemampuan supranatural untuk mengalahkan lawan-lawan yang menghalangi aktivitas dakwah mereka, maka kemampuan para kiai generasi saat ini lebih banyak mengacu pada kemampuan penguasaan ilmu-ilmu keislaman dan perolehan rezeki.


Beberapa kiai pengasuh pesantren generasi ketiga yang saat ini mengasuh pesantren tersebut dipercaya memiliki karāmah berupa ilmu laduni, yaitu sebuah kemampuan untuk menguasai semua disiplin ilmu-ilmu keislaman tanpa melalui proses pembelajaran. Meski hanya beberapa tahun saja belajar di pesantren, mereka diyakini mampu menguasai ilmu nahwu, sharaf, tafsir, hadits, tauhid, fiqh dan disiplin-disiplin ilmu keislaman lainnya. 

Sementara beberapa kiai yang lain dipercaya mampu memperoleh rezeki yang cukup berlimpah meski secara lahiriah tidak memiliki pekerjaan tetap. Tidak satupun dari kalangan kiai pengasuh pesantren pada generasi ketiga ini yang dipercaya memiliki karāmah berupa pengalaman yang luar biasa atau kesaktian yang membuatnya mampu menundukkan lawan-lawannya.

Mitologi di kalangan Pesantren Futuhiyyah ini, dengan berbagai fenomena pergeserannya, tentu memiliki akar-akar kemunculan, pola-pola atau bentuk dan fungsi-fungsi sosialnya sendiri. Pada titik inilah penulis melihat bahwa fenomena pergeseran mitologi ini sangat menarik untuk diteliti.


*tulisan ini pernah dimuat di Jurnal Walisongo, Volume 19, Nomor 2, November 2011.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar