Pergeseran Mitologi Pesantren di Era Modern (Bagian 2) - Pondok Pesantren Futuhiyyah

Breaking

Random posts

Kamis, 31 Mei 2018

Pergeseran Mitologi Pesantren di Era Modern (Bagian 2)


Oleh Akhmad Arif Junaidi

Dekan Fakultas Syariah UIN Walisongo Semarang, Alumni Futuhiyyah


Mitos Prespektis Antropologis

Dalam perspektif antropologis, mitos adalah kepercayaan yang menyatakan bahwa ada orang-orang tertentu yang memiliki taraf spiritualitas yang sangat tinggi dan memungkinkannya dapat melakukan sesuatu yang luar biasa serta mampu melampaui pengalaman manusia pada umumnya. Mitos juga didefinisikan sebagai uraian naratif tentang sesuatu yang suci (sacred), yaitu kejadian-kejadian yang luar biasa dan mampu mengatasi pengalaman manusia sehari-hari. 

Mitos juga dipahami sebagai suatu cerita tentang kesaktian dan peristiwa luar biasa yang dialami seseorang atau kelompok masyarakat yang diturunkan dari satu generasi ke generasi lainnya. Mitos berkembang di kalangan masyarakat melalui tradisi lisan. Ia banyak beredar dari mulut ke mulut tanpa diketahui dari mana sumber informasi itu berasal.


Mitos yang membalut kehidupan seseorang menjadikannya “berbeda” dari kebanyakan orang. Ia dipandang sebagai orang suci dan istimewa, diberkati oleh Tuhan atau kekuatan adikodrati. Dalam mitos terkandung filsafat hidup, kreativitas dan hal-hal lain tentang masyarakat itu. 

Dengan menggunakan pendekatan fungsional, Bronislaw Malinowsky menyatakan bahwa mitos merupakan unsur penting dalam kehidupan manusia yang berfungsi sebagai pola, skema atau peta yang berdasarkan atas kaidah sosial dan struktur sosial. Mitos merupakan realitas sosial yang juga memiliki kepentingan sosial. 

Mitos dapat menciptakan legitimasi atau memberikan landasan-landasan keabsahan bagi upaya-upaya mengatur masyarakat. Mitos juga dapat mengalami pergeseran seiring dengan perubahan sosial yang terjadi.

Pada mulanya penelitian antropologi menganggap bahwa mitos-mitos merupakan produk mental pralogis dan karena itu irasional, namun antropologi modern kemudian mengubah pandangannya. Mereka kemudian memandang bahwa berbagai kepercayaan atau mitos yang nampaknya absurd itu akan dapat masuk akal bila dilihat dari konteks budaya yang tepat. 

Ia merupakan penggambaran dari gejala-gejala yang alamiah. Tetapi, gejala-gejala itu terjalin secara rumit dalam dongeng-dongeng sehingga tersembunyi atau bahkan hilang. Karenanya mitos-mitos perlu ditafsirkan.


Mitologi di Kalangan Pesantren Futuhiyyah


Kehidupan para kiai di Jawa juga banyak dibalut oleh mitos-mitos kekiaian, yaitu kepercayaan bahwa para kiai memiliki karāmah. Karāmah adalah semacam kekuatan spiritual yang sangat tinggi yang memungkinkan para kiai tersebut dapat melakukan sesuatu yang luar biasa dan mampu melampaui pengalaman manusia lainnya. Mitos-mitos ini berkembang dari mulut ke mulut di hampir seluruh pesantren, termasuk juga Pesantren Futuhiyyah.


Kalangan Pesantren Futuhiyyah mempercayai bahwa K.H. Abdurrahman, pendiri dan generasi pertama pengasuh pesantren tersebut, memiliki karāmah yang luar biasa. Sebagai murid kesayangan K.H. Ibrahim Yahya dari Brumbung, dia dianggap mewarisi sepenuhnya karāmah yang dimiliki gurunya.

Dalam sebuah pendadaran, semacam ujian spiritual yang harus dilalui setiap murid, K.H. Abdurrahman menjadi satu-satunya santri yang lulus ujian tersebut. Dia mampu menaklukkan seekor ular besar jadi-jadian (daden-daden) yang mengamuk di masjid tempat di mana ujian pen-dadaran tersebut dilaksanakan. Kemampuannya untuk lolos dalam ujian pendadaran inilah yang membuat sang guru mengangkatnya sebagai murshid tarekat Qadiriyyah wa Naqsyabandiyyah.


Kalangan Pesantren Futuhiyyah juga mempercayai bahwa K.H. Muslih Abdul Rahman, salah seorang kiai kenamaan dari pesantren tersebut yang tidak lain adalah anak dari K.H. Abdul Rahman bin Qashid al-Haq, konon pernah bertemu dengan Nabi Khidzir, seorang nabi yang dalam kalangan Muslim tradisional dipercaya masih hidup hingga sekarang. 

K.H. Muslih bertemu dengan nabi yang banyak berkelana mengarungi samudra ini sebanyak tiga kali. Pertemuan pertama dan kedua berlangsung di Makkah, sedangkan pertemuan yang ketiga berlangsung di kediaman K.H. Muslih di lingkungan Pesantren Futuhiyyah. Pertemuan terakhir K.H. Muslih dengan Nabi Khidzir ini sempat menggegerkan kalangan Pesantren Futuhiyyah.


K.H. Muslih juga memiliki karāmah yang lain, berupa kemampuan untuk menundukkan kesaktian orang lain. Konon, pada masa perang kemerdekaan, di sebuah wilayah di bagian barat kota Semarang, ada seorang perempuan kampung yang dicurigai melakukan kegiatan spionase untuk kepentingan militer Belanda. Perempuan tersebut ditangkap oleh tentara Indonesia yang sedang bertugas di sektor setempat dan dijatuhi hukuman mati di hadapan regu penembak. 

Anehnya, perempuan ini tidak terluka sedikit pun ketika ditembak oleh regu penembak. Peluru-peluru tajam yang dimuntahkan dari moncong senjata tidak mampu menembus tubuh perempuan itu. Senjata-senjata tajam yang ditusukkan juga seolah-olah mental begitu saja ketika mengenai tubuhnya. K.H. Muslih yang saat itu sudah mulai beranjak dewasa pun melumpuhkan perempuan tersebut dengan cara menyembelihnya.


Karāmah juga dimiliki oleh kiai lain di lingkungan Pesantren Futuhiyyah. K.H. Utsman, kakak kandung K.H. Muslih, juga dikenal banyak memilikinya. Konon, ketika awal-awal pengembangan pesantren, banyak gangguan yang dilakukan oleh para berandal desa. Ketika para santri sedang mengadakan pawai di malam hari untuk kegiatan akhir tahun (haflah akhir sanah), mereka dicegat dan diganggu oleh para berandal desa. K.H. Utsman yang kebetulan ada dalam rombongan pawai tersebut menantang para berandal tersebut, dan akhirnya terjadi perkelahian. 

Dalam perkelahian tersebut, K.H. Utsman memperlihatkan karāmah-nya. Secara tiba-tiba, sambaran dan kobaran api membakar arena perkelahian. Para berandal pun ketakutan dan menyatakan takluk pada K.H. Utsman. Kepada kiai muda ini, para berandal tersebut bahkan menyampaikan maksudnya untuk bertobat dan menjadi santri.


Sedangkan K.H. Murodi, adik kandung K.H. Muslih, memiliki karāmah yang berbeda. Kiai bertubuh kurus ini mampu menundukkan jin dan makhluk halus lainnya. Bahkan, beberapa jin kemudian menjadi santri kesayangan kiai dan bertugas menjaga pesantren dan rumah kiai. Pada saat-saat tertentu, ketika K.H. Murodi sedang tidak berada di rumah misalnya, jin-jin tersebut menampakkan diri. 

Beberapa orang santri mengaku melihat langsung ketika jin-jin tersebut menampakkan diri. Beberapa informan juga menyatakan bahwa K.H. Murodi konon telah mengalami jadhab, sebuah proses spiritual untuk masuk dalam tataran ke-wali-an, sebanyak sembilan kali. Pada saat jadhab ini, kiai tersebut dikabarkan mampu memahami bahasa dan perilaku binatang yang ada di sekitarnya. 

Para santri menginformasikan bahwa pernah ketika sang kiai tersebut sedang mengalami jadhab dia memperhatikan kerumunan semut-semut kecil yang ada di depannya dan terus mengikuti ke mana pun arah pergi kerumunan semut-semut tersebut.


Sementara K.H. Ahmad Muthohar, adik kandung K.H. Murodi, juga diyakini memiliki banyak karāmah. Selain pernah bertemu dengan Nabi Khidzir, kiai ini juga memiliki ilmu laduni, sebuah pengetahuan yang didapatkan langsung dari Tuhan, tanpa melalui proses belajar yang bertele-tele. Sebuah informasi menyatakan bahwa sang kiai bahkan telah mampu menghafal al-Qur’an meski tidak pernah secara khusus dan secara teratur menghafalkannya. 

Sang kiai juga diyakini menguasai hampir semua disiplin ilmu-ilmu keislaman. Dia bahkan dikenal sangat produktif dalam menulis kitab-kitab kecil untuk pegangan para santri. Banyak kitab-kitab kecil pegangan para santri hasil karyanya yang telah dipublikasikan dan beredar luas di pesantren-pesantren di Jawa Tengah dan Jawa Timur.


Karāmah berupa kemampuan untuk menundukkan jin dan makhluk halus lainnya juga dimiliki oleh K.H. Abdul Rahman Badawi, salah seorang menantu K.H. Muslih yang berasal dari Kembangan Demak. Bukan hanya itu, beberapa informan mengatakan bahwa kiai bertubuh gempal ini mampu berkomunikasi dengan arwah orang-orang yang sudah meninggal, bahkan bisa melihat malaikat. 

Pada saat pembacaan barzanji di setiap malam Jum’at, kiai tersebut konon melihat kehadiran arwah Nabi Muhammad yang sengaja datang untuk mengunjungi jama’ah yang membacakan sholawat dan pujian-pujian kepadanya. K.H. Abdul Rahman Badawi memanfaatkan kemampuan dan karāmahnya tersebut untuk menyembuhkan berbagai penyakit dan memuluskan langkah yang diinginkan oleh orang-orang yang datang kepada-nya. Tidak heran manakala tiap hari dia “kebanjiran” tamu yang datang dari berbagai daerah, untuk meminta kesembuhan dari penyakit, memohon didoakan agar cepat naik pangkat atau “kelarisan” dalam berdagang. 

Uniknya, kemampuan K.H. Abdul Rahman Badawi untuk menundukkan makhluk halus dan berkomunikasi dengan arwah orang yang sudah meninggal ini akan berkurang atau bahkan hilang sama sekali bilamana di sekitarnya terdapat gambar-gambar makhluk yang bernyawa, baik gambar binatang ataupun gambar manusia, apalagi gambar wanita yang memperlihatkan auratnya. Biasanya dia akan memerintahkan untuk menyingkirkan gambar-gambar yang dapat mengganggu ketajaman mata batinnya tersebut.


Karāmah yang dimiliki oleh K.H. Luthfil Hakim, salah seorang putra dari K.H. Muslih Abdul Rahman, cukup unik. Putra tertua kiai kenamaan ini konon memiliki ilmu laduni yang diperolehnya dengan cara yang berbeda. Semula dia dikenal sebagai anak kiai yang hanya memiliki kecerdasan rata-rata. Penguasaannya atas ilmu-ilmu keislaman terbilang “pas-pasan” untuk ukuran anak seorang kiai kenamaan. 

Keajaiban muncul ketika pada suatu hari Luthfil Hakim muda mengendarai sepeda motor dengan kecepatan tinggi. Karena tidak dapat mengendalikan sepeda motor yang dikendarainya inilah maka dia terjatuh dan menderita luka yang cukup parah di bagian kepala.


Kebiasaan yang selalu terjadi bila ada orang yang terluka pada bagian kepala maka biasanya dia akan mengalami gegar otak. Namun hal tersebut tidak terjadi pada anak muda yang menyelesaikan sarjana mudanya dalam bidang hukum di Universitas Tribakti Kediri tersebut. Bukannya mengalami gegar otak, anak muda tersebut justru memiliki kecerdasan yang luar biasa setelah kecelakaan tersebut terjadi. 

Sejak itulah dia dengan mudah mencerna setiap pelajaran yang diperolehnya, baik di kelas maupun di pengajian-pengajian pesantren. Dia juga dengan mudah menguasai berbagai disiplin ilmu-ilmu keislaman yang ada.


Sementara itu K.H. Muhammad Thoha, salah seorang menantu K.H. Utsman Abdul Rahman, dipercaya memiliki karāmah yang jarang dimiliki oleh kiai lainnya, berupa sapu angin, yaitu kemampuan bergerak dengan kecepatan yang luar biasa laksana angin. Dengan kelebihannya tersebut, kiai bertubuh kurus tinggi ini mampu memanjat pohon kelapa dengan sangat cepat meski dia sudah sangat tua. 

Beberapa santri mengaku melihat sendiri bagaimana sang kiai yang sudah renta tersebut dengan sangat cepat memanjat pohon kelapa yang sangat tinggi yang terletak di belakang pesantren. Seorang santri bahkan menceritakan bahwa dalam suatu kesempatan dia tidak mampu mengejar kiai yang sudah tua tersebut meski dia mengendarai sepeda motor. Beberapa santri juga mempercayai bahwa sang kiai memiliki kemampuan sigar rogo, yaitu kemampuan untuk berada di dua tempat dalam waktu yang sama.


K.H. Abdul Kholiq, salah seorang putra K.H. Murodi, juga dipercaya memiliki karāmah yang luar biasa. Dia dipercaya memiliki ilmu laduni berupa kecerdasan yang luar biasa. Tidak seperti “pemilik ilmu laduni” lainnya yang biasanya tidak menempuh jalur pendidikan formal, sang kiai adalah alumni Universitas Al-Azhar, sebuah perguruan tinggi ternama di Kairo, Mesir. 

Dia dipercaya fasih berbahasa Arab, Inggris dan Belanda. Mantan anggota DPR RI dari Fraksi PDI di era pra-reformasi ini juga dipercaya memiliki karāmah berupa perolehan rejeki yang berlimpah. Setelah tidak lagi menjadi anggota legislatif, sang kiai lebih banyak “duduk manis” di rumah, tetapi dia memiliki kekayaan yang banyak. 

Rumah yang ditempatinya adalah rumah berkelas dan mobil yang dikendarainya adalah mobil mewah. Yang paling membuat santri dan masyarakat kaget dan heran adalah ketika mereka tahu bahwa ternyata sang kiai memiliki bisnis pengadaan perumahan dan sebuah koperasi simpan pinjam yang selama ini tidak pernah muncul ke permukaan. Konon asset yang dimilikinya telah mencapai miliaran rupiah.

1 komentar: