Sajak-sajak Abdul Chanan Slamet - Pondok Pesantren Futuhiyyah

Breaking

Random posts

Jumat, 25 Mei 2018

Sajak-sajak Abdul Chanan Slamet


Terasing

Pada pilar tua yang tegak
Aku mencipta untaian sajak
Tentang racun semacam sihir
Begitu merekah, mataku mengalir

Sekilas mata mencerna kata-kata
Bagaimana anak kalimat bisa tertata
Sesobek kertas usang menjadi saksi
Perihal kata-kata yang tertata rapi

Sesekali merpati singgah menemani
Ketika musim di mataku sedang semi
Namun merpati hilang mengabur
Ketika musim di dadaku sedang gugur

Musim di mataku menjelma hujan
Sajakku menjadi bulan-bulanan hujan
Sajakku menjadi bangkai kenangan
Yang terapung di antara genangan

Aku dan sajakku, mungkin tak lagi rindu
Sebab hujan tak izinkan saling berpadu
Kata per kata dipisahkan langit yang berkaca-kaca
Sementara mataku sayup-sayup memandanginya

Aku dan merpati, mungkin tak lagi temu
Sebab langit lebih memilih merpati berlalu
Mengibas-ngibaskan sayap lalu hilang
Sementara aku masih menunggunya datang

Jika sajakku tak tercipta lagi
dan merpati tak lekas kembali
Biarkan langit-langit dadaku gugur
dengan batu nisan yang terbujur

Salah Kopi

Pada sebuah kafe, kau bertanya padaku,
"Kopi apa yang paling nikmat di bibirmu?"
Sembari menenggak kopi, aku menjawabmu,
"Kopi yang tidak bercampur dengan air matamu"
Kemudian kau bangkit dari kursi dan berlalu

Sebuah Jendela Sepi

Aku terhempas diatas awan kelabu
Menyusut diantara langit biru
Aku pikir, aku sedang rindu
Aku pikir, angin ikut memburu
Ternyata sepi sedang menguburku

Dari sudut kaca jendela
Pertanyaan menghantui kepala
Apa benar aku penghuni ruang hampa?
Jika iya, mengapa harus di iringi duka?
Bukankah setiap kepala berhak mendamba?

Tak ada kata
pada semesta
Tak ada janji
pada awan suci
Tak ada waktu
pada kedua mataku
yang tak mati-mati
meski ditusuk-tusuk sepi

Aku pun ingin berkemas dan lari
Pada pertanyaan nan mengusik memori
Ibaratnya sebuah hari tanpa matahari
Mustahil memang, namun kuasa terjadi
Bisa-bisa kegilaan menimpa jiwaku ini!

Barangkali itu suratan takdir
Tiap goresan senantiasa terukir
Biarpun rongga mulut tergelincir
Biarpun akal sejengkal mencibir
Sebab akan gugur masa surat itu berakhir

Kau Pantas Pulang

Pada akhirnya ruh orang-orang
khusyuk dalam perjalanan panjang
Mengulang-ulang doa yang kumandang
untuk menebus dosa, semoga lekas hilang
Hingga Tuhan bersabda; kau pantas pulang

Siklus Cinta

Pada sebuah pertemuan,
menyisakan benci dalam perpisahan
Pada sebuah perpisahan,
menyisakan rindu dalam pertemuan



*Abdul Chanan Slamet, santri Ponpes Futuhiyyah penikmat kopi dan puisi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar