Pergeseran Mitologi Pesantren di Era Modern (Bagian 3) - Pondok Pesantren Futuhiyyah

Breaking

Random posts

Minggu, 03 Juni 2018

Pergeseran Mitologi Pesantren di Era Modern (Bagian 3)

Oleh Akhmad Arif Junaidi

Dekan Fakultas Syariah UIN Walisongo Semarang, ALumni Futuhiyyah


Akar, Pola dan Fungsi Mitologi

Sebagaimana yang berkembang di kalangan pesantren lainnya, mitos yang berkembang di kalangan Pesantren Futuhiyyah mengemuka melalui cerita lisan (oral history). Sebagian dari cerita lisan tersebut berhasil ditulis, namun selebihnya tetap menjadi cerita yang turun-temurun tersebar dalam komunitas pesantren dan masyarakat sekitarnya. 

Mitos-mitos tentang kiai dalam komunitas Pesantren Futuhiyyah muncul di antaranya dengan cara: pertama, penyaksian langsung oleh santri atau orang dekat kiai terhadap kehebatan kiai. Penyaksian secara langsung ini biasanya terkait dengan kesaktian kiai (karāmah) yang mampu menundukkan lawan-lawan yang senantiasa mengganggu eksistensi pesantren, perjumpaan dengan Nabi Khidlir, para wali, dan mampu berkomunikasi dengan arwah orang mati yang dikehendaki.

Sumber dari mitos model ini adalah para “saksi”—baik para santri maupun keluarga dekat kiai—dalam komunitas Pesantren Futuhiyyah yang menceritakan kesaktian para pendahulunya kepada para santri Pesantren Futuhiyyah dan masyarakat sekitarnya pada generasi berikutnya.

Bagaimanapun, pengamatan dan analisa santri terhadap kiainya menghasilkan kesimpulan tertentu tentang kelebihan-kelebihannya. Mitos semacam ini terkait dengan kedalaman ilmu kiai yang tidak bisa dinalar oleh santri. Dalam situasi semacam itu muncullah dugaan bahwa kiainya mem-punyai ilmu laduni misalnya, sebuah pengetahuan yang didapatkan tanpa melalui proses pembelajaran.

Dugaan ini kemudian diperkuat oleh cerita-cerita mengenai cara perolehan ilmu laduni tersebut. K.H. Ahmad Mutohar misalnya, diceritakan bahwa semasa mudanya tidak begitu ‘alim, namun setelah mimpi bertemu ayahnya yang telah wafat, K.H. Abdul Rahman bin Qashid al-Haq, kemudian ia berubah menjadi sangat luar biasa ‘alim. Begitu juga dengan K.H. Lutfil Hakim, putra sulung K.H. Muslih Abdul Rahman, yang menampakkan keluarbiasaan dalam ke’alimannya setelah kiai muda tersebut jatuh dari sepeda motor.


Mitos tentang kemampuan menguasai ilmu-ilmu keislaman tanpa melalui proses pembelajaran (ilmu laduni) biasanya disandarkan kepada para kiai yang memiliki basis ilmu keislaman yang sangat kuat. Meski kebanyakan memiliki penguasaan ilmu-ilmu keislaman dasar yang memadai, namun di antara mereka ada yang memiliki spesifikasi keilmuan di bidang tertentu, misalnya tafsir al-Qur’an, hadits, gramatika bahasa atau ilmu alat (naḥwu, ṣaraf) dan lain-lain. 

Mereka yang memiliki spesifikasi di bidang keilmuan tertentu inilah yang biasanya dimitoskan sebagai kiai yang memiliki ilmu laduni. Di tengah kesibukan mengajar, seorang kiai yang memiliki kemampuan untuk menerjemahkan kitab, memberikan syarah, mengarang nadzam dan lainnya sudah barang tentu membuat para santri terkagum-kagum dengan kemampuan dan luasnya pengetahuan yang dimiliki oleh kiainya. 

Dalam benak mereka, membaca dan memahami kitab saja masih di pandang sulit, apalagi sampai memiliki kemampuan untuk menulis kitab, membuat nadzam, memberikan syarah dan lain sebagainya. Dalam kenyatannya memang banyak sekali hasil terjemahan, syarah, dan karangan kitab yang ditulis oleh para kiai Pesantren Futuhiyyah yang tersebar di hampir seluruh pesantren di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Hal inilah yang menyebabkan para santri menyimpulkan bahwa kiainya mempunyai ilmu laduni.


Pemahaman ini biasanya dikemukakan oleh santri senior atau ustadz yang bisa mengukur kedalaman ilmu kiainya. Begitu dalam ilmu tersebut sehingga sang ustadz mengasumsikan kiainya itu mempunyai ilmu laduni. Hal ini kemudian diceritakan pada para santri lain dan berkembang menjadi keyakinan bersama. Keyakinan ini pada akhirnya semakin meneguhkan keyakinan santri atas otoritas keilmuan kiainya tersebut.


Mitos juga muncul ketika para kiai secara kasat mata dipandang tidak memiliki sumber perekonomian yang jelas, akan tetapi pada kenyatannya mereka mampu menunjukkan eksistensi sosial-ekonominya dalam masyarakat sebagaimana kemampuan yang dimiliki oleh para saudagar, pedagang, tuan tanah dan kelompok kelas elit lainnya. 

Eksistensi tersebut terlihat ketika secara nyata para kiai diberikan kemampuan untuk menunaikan ibadah haji secara terus menerus, membangun pesantren, membeli mobil, memiliki kekayaan yang cukup dan sebagainya. Dalam konteks demikian ini, maka muncul dugaan bahwa kiai tersebut dipandang mempunyai keistimewaan berupa maqam tajrid, yakni suatu derajat, status atau keistimewaan dari Allah, bahwa seseorang tercukupi kebutuhan duniawiyahnya tanpa melalui bekerja (kebalikannya adalah maqam kasbi) sebagaimana masyarakat pada umumnya.


Bagaimanapun, mengikuti Bronislaw Malinowski, mitos kekiyaian di Pesantren Futuhiyyah tersebut merupakan realitas sosial yang juga memiliki kepentingan sosial. Artinya, mitos dapat menciptakan legitimasi atau memberikan landasan-landasan keabsahan bagi upaya-upaya mengatur masyarakat. Karena harus diakui bahwa kiai-kiai pesantren yang menjadi sandaran mitos tersebut mendapatkan tambahan legitimasi dan keabsahan bagi upaya-upaya mengatur santri yang berada di bawah asuhannya dan konteks masyarakat di sekitarnya, bahkan lebih luas lagi bagi masyarakat luas pada umumnya. 

Kiai-kiai yang dimitoskan akan lebih banyak dihormati dan ditaati dibanding kiai-kiai yang tidak berselimut mitos. Kiai-kiai yang dimitoskan juga akan lebih mudah menarik minat belajar santri dibanding kiai-kiai yang tidak dimitoskan.


Kiai-kiai yang dimitoskan akan banyak memiliki daya tarik yang luar biasa. Namun demikian, mitologi kekiaian sama sekali tidak dikaitkan sebagai sebuah perilaku pamer (riyā’/ ‘ujub) atas berbagai kelebihan yang dimiliki oleh kiai. 

Dalam komunitas pesantren, termasuk Pesantren Futuhiyyah, berbagai hal yang istimewa dalam diri kiai memang dikonsumsi dan diyakini adanya oleh santri, namun hal ini bukan bentuk dari ketakaburan kiai. Dalam tradisi pesantren juga tidak ada anggapan bahwa kiai sengaja menceritakan kelebihannya agar memperoleh kehormatan.


Deskripsi di atas menunjukkan bahwa mitos di Pesantren Futuhiyyah mempunyai akar, pola, dan fungsi yang jelas. Berbagai ke-karāmah-an kiai menjadi bagian dari modal sosial seorang kiai dalam mengembangkan dan mempertahankan pesantren. Tanpa modal sosial semacam ini, maka pondok pesantren bisa dikatakan akan gulung tikar. Justru berbagai mitos di atas dalam perspektif antropologis merupakan bagian yang tidak dipisahkan dari komunitas pesantren. 

Karenanya, secara faktual hal ini tidak mungkin hilang dari komunitas pesantren, mengingat apa yang diajarkan masih didasarkan pada pemahaman normatif yang sangat kental atas teks-teks keagamaan klasik. Pada akhirnya dalam diri santri dan masyarakat sekitar pesantren akan terbentuk mind set-nya sendiri akibat dari internalisasi ajaran yang kemudian melahirkan perilaku sosial untuk memberikan penghormatan kepada kiai dengan berbagai kelebihan yang dimilikinya.

Dalam perpesktif antropologis, inilah yang kemudian melahirkan mitos-mitos kekiaian. Menurut Amri Marzali, dalam teori antropologi, objek kajiannya bukan semata-mata tentang fenomena material saja, tetapi tentang cara bagaimana fenomena tersebut diorganisasikan dalam pikiran (mind). Budaya (termasuk di dalamnya budaya di pesantren yang penuh dengan nuansa supranatural/ mistis) itu ada dalam pikiran (mind) manusia dan bentuknya adalah organisasi pikiran tentang fenomena material.


Dalam perspektif yang dikemukakan Berton kaitannya dengan teori fungi, mitologi di Pesantren Futuhiyyah mempunyai dua fungsi, yakni fungsi manifes (fungsi tampak) dan fungsi laten (fungsi terselubung). Fungsi manifes merupakan konsekuensi objektif yang memberikan sumbangan pada penyesuaian atau adaptasi sistem yang dikehendaki dan disadari oleh partisipan sistem tersebut. Sebaliknya fungsi laten merupakan konsekuensi objektif dari suatu ikhwal budaya yang tidak dikehendaki maupun disadari oleh komunitas tersebut.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar