Pergeseran Mitologi Pesantren di Era Modern (Bagian 4 -habis) - Pondok Pesantren Futuhiyyah

Breaking

Random posts

Rabu, 06 Juni 2018

Pergeseran Mitologi Pesantren di Era Modern (Bagian 4 -habis)


Oleh Akhmad Arif Junaidi

Dekan Fakultas Syariah UIN Walisongo Semarang, Alumni Futuhiyyah

Pergeseran Mitologi di Pesantren Futuhiyyah

Perubahan yang mengarah pada terbentuknya realitas dan perilaku yang relatif berbeda dengan sebelumnya merupakan perluasan dari tipologi baru kehidupan kiai pesantren. Karena dalam konteks saat ini, hampir seluruh kehidupan pesantren—baik kiai, keluarga, santri, sistem pendidikan, masyarakat sekitar pesantren maupun persepsi masyarakat pada umumnya—mengalami pergeseran dan perubahan seiring dengan pergeseran dan perubahan jaman. 

Sangat sulit menemukan adanya realitas dan perilaku kehidupan pesantren yang dipertahankan secara utuh, ajeg (tetap)–sebagaimana perilaku dan realitas para pendahulunya atau bahkan para pendirinya (founding fathers).

Pergeseran mitologi di Pesantren Futuhiyyah terjadi pada kehidupan kiai generasi ketiga. Pada generasi pertama dan kedua, mitologi yang berkembang lebih kompleks yang menyangkut berbagai ke-karāmah-an kiai dalam berbagai bentuknya, dari mulai kedalaman ilmu, kesaktian, ke-mampuan menaklukkan jin, perjumpaan dengan Nabi Khidhir, keberkahan, dan ketinggian derajat spiritual sebagai murshid Tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyyah. 

Sementara pada generasi ketiga, mitos yang berkembang semakin mengerucut pada aspek keilmuan, keberkahan, dan kemudahan memperoleh rejeki. Dua aspek pertama merupakan modal utama berdiri kokohnya pesantren, sedangkan aspek yang terakhir adalah keistimewaan kiai yang dinilai tinggi ketakwaannya sehingga dipermudah jalan rejekinya. 

Aspek kedalaman ilmu dan keberkahan hidup menjadi mitos yang tidak tergoyahkan dalam lingkup Pesantren Futuhiyyah. Religiusitas tidak akan nampak menjadi perekat yang dahsyat antara santri dan kiai jika mitos tentang ketinggian keilmuan kiai dan sebagai agen penyaluran keberkahan dari Allah tidak lagi ada.

Memudarnya mitos kesaktian, kemampuan menaklukkan jin, kemampuan bertemu dengan Nabi Khidlir, berkomunikasi dengan realitas non-fisik dan lain-lainnya yang melekat pada kiai generasi pertama dan kedua adalah efek pergeseran dari dunia mitis kepada dunia modernitas. Dalam dunia modern, arus komunikasi global sedemikian deras sehingga tidak lagi ada sumber pengetahuan yang sifatnya tunggal. 

Kiai tidak lagi menjadi satu-satunya sumber “kebenaran” bagi santri, karena semakin banyaknya sumber-sumber “kebenaran” yang lain, seperti koran, radio, TV dan perangkat-perangkat canggih lainnya. Hal ini tentu berakibat pada pergeseran nilai-nilai yang dianut dunia pesantren. Di samping itu, dalam konteks kemodernan, tantangan yang dihadapi dunia pesantren relatif berbeda. 

Kiai relatif tidak mengalami kendala dari sisi keamanan sehingga ia tidak perlu menggunakan “mitos kesaktian”-nya untuk menaklukkan bajingan dan preman yang mengganggu eksistensi pesantren. Kiai saat ini juga tidak dihadapkan pada upaya perlawanan terhadap penjajah Belanda dan pemberontakan PKI yang mengharuskan dan mengkondisikan munculnya mitos-mitos kesaktian.

Mitos kesaktian dan ke-karāmah-an kiai yang berkaitan dengan kemampuan menaklukkan makhluk halus lambat laun hilang dari kiai generasi ketiga. Meskipun para santri dan masyarakat meyakini bahwa kiai generasi ketiga ini mempunyai kesaktian dan kemampuan supranatural lainnya, namun karena kondisi sosio-kultural masyarakat dipandang sudah stabil, maka kesaktian tersebut tidak pernah lagi mengemuka secara kasat mata. 

Hal ini berbeda dengan generasi pertama dan kedua, di mana kesaktian dan ke-karāmah-an kiai terejawantahkan secara nyata dan banyak kalangan santri yang menjadi “saksi” atas peristiwa-peristiwa adikodrati tersebut. Kalangan santri yang menjadi “saksi” inilah yang menjadi agen-agen yang cukup efektif bagi upaya diseminasi kepercayaan-kepercayaan akan karāmah kepada generasi selanjutnya.


Lambat laun, karena kesaktian dan kemampuan supranatural tidak terdeteksi oleh publik secara kasat mata, maka mitos tentang kesaktian dan ke-karāmah-an kiai menjadi menipis dan jarang dibicarakan. Tidak jarang pergeseran mitologi justru terjadi dari kiai sebagai pemilik karāmah menuju kiai sebagai agen modernisasi. 

Kiai yang sebelumnya diyakini memiliki kekuatan karāmah bergeser menjadi penikmat pertama perangkat-perangkat tehnologi di kalangan pesantren. Jika zaman dulu kiai dipercaya mampu berkomunikasi dengan kiai lain dengan kekuatan supranatural (telepati), maka dalam konteks sekarang seiring perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi modern yang semakin pesat, pola komunikasi tergantikan dengan alat/media telepon, handphone bahkan melalui internet. 

Jika dulu kiai mampu menaklukkan preman dan begundal jalanan, maka sekarang ini sudah ada aparat kepolisian yang bertugas menanganinya, dan seterusnya. Menipisnya mitos kesaktian juga terkait dengan perkembangan konteks sosial yang lebih modern di mana kiai dan santri juga mengikutinya. 

Hal ini bisa dilihat dari kenyataan bahwa jika dulu santri dibekali kiai dengan berbagai ijazah hizib (berbentuk mantra berbahasa Arab dengan tirakat atau lakon-lakon tertentu) yang dipercaya mempunyai kekuatan mistis dahsyat untuk pegangan hidup, maka sekarang santri dibekali ijazah formal pendikan berdasar tingkatannya, misalnya ijazah MA/SMA/SMK yang dapat diperguna-kan untuk melanjutkan kuliah di Perguruan Tinggi (PT); jika dulu kiai menekankan agar santri rajin berpuasa dan dzikir siang malam dengan bilangan mencapai ribuan, maka kiai sekarang menekankan penguasaan bahasa asing, rumus matematika, internet, komputer demi lulus Ujian Akhir Nasional (UAN). 

Bila santri dulu giat merangkai rajah dengan menuliskannya untuk azimat dan pengobatan, maka santri sekarang lebih menekankan untuk merangkai mesin otomotif serta merangkai benang untuk menjahit dan membordir dan seterusnya.

Kesimpulan

Bisa dikatakan bahwa telah terjadi pergeseran mitologi di Pesantren Futuhiyyah sebagai akibat langsung dari derasnya arus modernisasi yang pada gilirannya telah mengakibatkan terjadinya pergeseran nilai-nilai yang dianut oleh komunitas pesantren tersebut. Pergeseran nilai tersebut berimplikasi pada terjadinya pergeseran paradigma pemikiran dari yang mitis menuju yang lebih rasional. 

Pergeseran paradigma pemikiran tersebut mengakibatkan terjadinya pemudaran mitos-mitos yang selama ini begitu kuat membalut kehidupan pesantren tersebut. Meski demikian, hal tersebut bukan berarti tidak lagi ada mitologi di kalangan pesantren tersebut. Hal ini karena mitos tidak akan pernah lepas dari kehidupan pesantren, dan bahkan kehidupan manusia pada umumnya. 

Dalam analisis Kuntowijoyo disebutkan, mitos akan selalu ada dan bermetamorfosis sesuai dengan konteks dan zamannya. Pada periode mitos kehidupan manusia dipenuhi dengan berbagai mitos yang dahsyat (abad ke-19-20). Pada abad ke-21 ini periode mitos sudah berakhir, namun harus diakui bahwa mitos masih tetap dihidupkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar