Taaruf Wali Santri Baru Ponpes Futuhiyyah, Nurul Burhany 1 dan Nurul Burhany 2 - Pondok Pesantren Futuhiyyah

Breaking

Random posts

Sabtu, 21 Juli 2018

Taaruf Wali Santri Baru Ponpes Futuhiyyah, Nurul Burhany 1 dan Nurul Burhany 2



Pondok Pesantren (Ponpes) Futuhiyyah, Nurul Burhany 1 dan Nurul Burhany 2 Mranggen Demak mengadakan acara taaruf (pengenalan) dengan wali santri pada Sabtu (21/7). Bertempat di aula Yayasan Futuhiyyah, acara tersebut dihadiri ratusan wali murid dari berbagai daerah.

Khoirudin, salah satu wali santri dari Batang, dalam sambutan mewakili wali santri telah memasrahkan anaknya untuk dididik.

"Selaku wali santri kami memasrahkan anak kami kepada para masyayikh untuk dididik di sini" ucapnya.

KH. Helmi Wafa, Pengasuh Ponpes Nurul Burhany 1 mengatakan bahwa pendidikan di pesantren itu tidak sekadar belajar.

"Di pesantren para santri tidak sekadar dididik untuk belajar, tetapi juga untuk berkhidmah," ujarnya.

Karena itu, lanjutnya, para santri juga mempunyai kewajiban untuk melakukan aktivitas-aktivitas seperti menyapu, kerja bakti, dan sebagainya.

"Semua sudah terjadwal. Mulai dari jadwal piket menyapu sampai jadwal ro'an (kerja bakti, red.)"

Hal itu dilakukan karena pesantren ingin mencetak para santri yang bukan hanya pandai, tetapi juga memiliki moral yang baik dan jiwa sosial.

"Kita ingin anak-anak kita menjadi orang yang solih-solihah, alim, dan mengerti adab atau tatakrama," ujarnya sembari diamini hadirin.

Pria yang akrab disapa Gus Helmi itu juga menekankan pentingnya mematuhi aturan pondok. Termasuk larangan membawa handphone.

"Kami mohon kerja sama orangtua untuk tidak membawakan hape untuk anaknya," terangnya.

Ia menegaskan, kalau ada santri yang membawa hape akan disita dan tidak bisa diminta lagi.

Pentingnya niat

Sementara itu, KH. Faizurrahman Hanif, pengasuh Ponpes Nurul Burhany 2, dalam sambutannya mengetengahkan pentingnya niat di awal mondok.

Ia mengkritisi sikap sebagian wali santri yang sekadar menitipkan anaknya di pesantren. Menurutnya, ucapan "menitipkan" kurang tepat.

"Kalau anak dititipkan, nanti begitu ada hajatan di rumah, anaknya diambil. Tetangganya hajatan, anaknya diambil. Ini bisa mengganggu siklus belajar anak," jelasnya.

Menurut pria yang juga kepala Madrasah Aliyah Futuhiyyah 2 itu, kata yang lebih tepat adalah "memasrahkan".

"Kalau anak dipasrahkan, artinya wali santri mempercayakan anaknya untuk dididik oleh pengelola pesantren, dan tidak bisa diambil sesukanya," ujarnya.

Putra KH. Hanif Muslih itu juga berpesan kepada para wali santri agar selalu memperhatikan anaknya.

"Kalau sambang ke pondok, usahakan jangan sekadar mengajak anaknya hiburan. Tetapi tanyakanlah hal-hal seputar pelajaran, tanyakan kitab yang sedang dikaji."

Hal itu, tuturnya, akan menimbulkan semangat pada diri santri sehingga mereka semakin giat ngaji.

Peran orangtua.

Sebagai pembicara inti, sesepuh Futuhiyyah, KH. Hanif Muslih mengawali sambutannya dengan mengucapkan selamat datang kepada seluruh wali santri.

"Kami mengucapkan selamat datang, ahlan wa sahlan, kepada hadirin. Semoga Allah membalas kebaikan hadirin," demikian beliau mengawali.

Pendidikan di Futuhiyyah, ucap beliau, tidak hanya untuk anak-anak. Mereka yang sudah tua juga bisa ikut ngaji di Futuhiyyah.

"Di sini setiap Senin dan Kamis kami membuka pengajian untuk orang-orang tua. Yaitu pengajian thoriqoh qodiriah wan naqsyabandiyah," beliau berujar.

Karena itu, lanjut KH. Hanif, kalau ada wali santri yang ikut ngaji silakan datang tiap Senin bagi laki-laki, dan tiap Kamis bagi perempuan.

Berkaitan dengan santri baru, dua hal yang utama menurut KH. Hanif adalah kewarasan (sehat) dan kerasan (betah). Dua hal itu, terutama kerasan, sangat ditopang oleh orangtua.

"Mulai sekarang, wali santri, terutama ibu, harus kuat hidup jauh dengan anaknya," tandas KH Hanif.
Lebih baik orangtua menangis sekarang karena ditinggal anaknya mondok, lanjut beliau, daripada kelak menangis karena anaknya tidak berbakti.

Dalam sambutannya KH. Hanif juga menyampaikan bahwa bekal orang meninggal itu ada tiga. Shodaqoh jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak soleh yang mendoakan orangtuanya.

"Sekarang ini banyak anak soleh tapi tidak mendoakan orangtuanya. Tidak mau kirim doa, tahlil, dan ziarah kubur," lanjut beliau.

Untuk mencetak anak soleh, kata beliau, orangtua punya peran yang sangat penting. Teladan baik (uswah) harus ditunjukkan orangtua pada anak-anaknya.

"Setiap anak lahir dalam keadaan fitri. Mau seperti apa dan mau ke mana seorang anak, sangat dipengaruhi oleh orangtuanya," pungkas beliau.

Acara taaruf berlangsung kurang lebih selama 3 jam. Pukul 16.30 acara usai, ditandai dengan bermushafahah (salam-salaman). Sebelum acara mulai, para wali santri dijamu di Ndalem KH. Hanif Muslih.

1 komentar: