Futuhiyyah Gelar Telekonferensi Ngaji Al-Hikam dengan Habib Umar bin Hafidz - Pondok Pesantren Futuhiyyah

Breaking

Random posts

Rabu, 01 Agustus 2018

Futuhiyyah Gelar Telekonferensi Ngaji Al-Hikam dengan Habib Umar bin Hafidz



Para habib dan kiai hadir dalam majelis muwasholah yang digelar di Masjid An-Nur Pondok Pesantren (Ponpes) Futuhiyyah Mranggen Demak pada Selasa (31/7) sore waktu setempat. Majelis tersebut diisi dengan pengajian Kitab Al-Hikam karya Ibnu Atho'illah As-Sakandari oleh Habib Umar bin Hafidz langsung dari Yaman melalui percakapan langsung jarak jauh (telekonferensi).

Selain habib dan kiai, majelis tersebut juga dihadiri ribuan santri dari Ponpes Futuhiyyah, Nurul Burhany 1, Nurul Burhany 2, Al-Amin, Al-Mubarok, dan ponpes lainnya. Masyarakat dari berbagai daerah juga turut memadati lokasi.

Pengasuh Ponpes Futuhiyyah, KH. Muhammad Hanif Muslih yang juga tuan rumah dalam acara tersebut menyampaikan terima kasih kepada hadirin.

"Kami mengucapkan terima kasih pada majelis muwasholah, yang tiap tahun menyelenggarakan pertemuan dengan para ulama yang kali ini diselenggarakan dengan pengajian Al-Hikam bersama Habib Umar bin Hafidz," tuturnya.

Dalam majelis tersebut Habib Muhammad Al-Junaid turut memberikan sambutan. Ia menyampaikan bahwa kehadirannya adalah untuk mencari keberkahan pada majelis ilmu.

"Ini adalah warisan Nabi Muhammad yang harus kita lestarikan dan sampaikan pada umat," ucapnya.

Ia juga menegaskan bahwa kehadirannya tidak untuk memberi nasihat.

"Saya sebenarnya tidak pantas berbicara di sini, saya hanya melaksanakan perintah guru kita semua, Kiai Hanif Muslih," ujarnya dengan rendah hati.

"Saya justru ingin mengambil ilmu dari para alim dan para kiai," lanjutnya.

Belajar ke Yaman

Sementara itu, Habib Soleh Al-Jufri yang menjadi salah satu pembicara inti dalam majelis tersebut mengingatkan eratnya hubungan Islam Indonesia dengan Islam Yaman.

Menurut ulama asal Solo Jawa Tengah itu, keislaman orang Indonesia tidak bisa dipisahkan dengan kiprah dan kontribusi ulama-ulama Yaman. Pasalnya, para Walisongo yang menyebarkan Islam ke tanah Jawa berasal dari Yaman, khususnya Hadramaut.

"Kakek keenam Sunan Ampel itu orang Yaman," jelasnya.

Kitab-kitab karya ulama Hadramaut juga banyak dikaji di pesantren.

"Sulam Taufiq, Safinatun Najah, dan Bughyatul Mustarsyidin adalah beberapa contoh kitab karya ulama Hadramaut yang dikaji di pesantren," jelasnya.

Karena Islam kita dari Yaman, masih menurut Habib Sholeh, maka bila ada masalah terkait gerakan keislaman di Indonesia, salah satu solusinya adalah dengan belajar ke sana (Yaman).

"Ibarat barang elektronik, maka kalau yang rusak merk sonny ya benerinnya di pusat reparasi milik sonny," tamsilnya.

Dari Yaman, Habib Umar bin Hafidz melalui telekonferensi menegaskan bahwa ulama memiliki potensi besar dalam menjaga keamanan dan ketenangan umat.

Konflik yang terjadi di berbagai tempat saat ini, menurutnya bisa diredam oleh ulama.

"Kewajiban ulama adalah menjaga umat," tegasnya.

Ia juga berpesan kepada para ulama agar tidak ikut berlomba-lomba dalam dunia politik praktis. Menurutnya, banyak ulama di berbagai tempat yang dimanfaatkan dan ditarik-tarik untuk kepentingan politik.

Jangan bergantung pada amal

Dalam kesempatan itu Habib Umar bin Hafidz menjelaskan untaian hikmah dari kitab Al-Hikam yang dibacakan oleh KH. Helmi Wafa.

Menjelaskan untaian "min alamati al-i'timad ala al amal nuqshanu ar-rajai 'inda wujudi az-zalali" Habib Umar berpesan bahwa kita tidak boleh tawakal pada amal dan ubudiyah. Sebab itimad (bergantung) pada amal bisa mengurangi itimad pada Allah. 

"Bergantungnya harus pada Allah, bukan pada amal," tuturnya.

Tanda-tanda orang beritimad pada amal adalah merasa diri lebih baik dari orang lain.

Apabila ia menginap bersama rombongan, lanjutnya, dan ia bangun lalu shalat malam, sementara yang lain tidak melakukannya, ia merasa lebih baik daripada yang lain.

Ia juga berpesan kepada hadirin untuk tidak melihat orang lain dari luarnya saja.

"Sebab bisa jadi orang yang secara lahir terlihat kotor, lusuh, dan terusir, ternyata tiap kali berdoa dikabulkan, karena ia seorang wali," pungkasnya.

Di penghujung acara Kia Hanif Muslih meminta ijazah wirid pada habib Umar agar suasana di Indonesia yang panas selama kontestasi politik bisa dingin dan terkendali.

Habib pun menjawab permintaan itu. Ia mengijazahkan doa, "Robbana ighfir lana dzunu bana wa ishrafana fi amrina wa tsabbit aqdaamana wanshurna ala al qoumi al kafirin" dibaca seratus kali setiap hari.

"Qobilna, (kami terima ijazahnya, red.)," jawab Kia Hanif.

Putra Kiai Muslih itu juga berpesan pada hadirin untuk mengakui Habib Umar sebagai gurunya meski hanya diajar selama lima menit dan melalui sambutan telekonferensi.

"Jangan pernah lupa bahwa beliau guru kita. Sebab sahabat Ali pun menganggap guru pada orang yang mengajarinya meski satu huruf, 'ana abdu man allama ni walau harfan' (aku adalah hamba orang yang mengajariku meski hanya satu huruf, red.)," pungkas Kiai Hanif.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar