Jamaah Thariqah dari Ponorogo Silaturahmi ke Futuhiyyah - Pondok Pesantren Futuhiyyah

Breaking

Random posts

Senin, 15 Oktober 2018

Jamaah Thariqah dari Ponorogo Silaturahmi ke Futuhiyyah

Mursyid TQN Mranggen, KH. Muhammad Hanif Muslih


Ahad siang (14/10) Pondok Pesantren Futuhiyyah kedatangan tamu jamaah thoriqoh dari Ponorogo, Jawa Timur yang dipimpin oleh KH. Mujiyono. Mereka dijamu di aula Yayasan Ponpes Futuhiyyah Mranggen Demak.

Meski tidak dihadiri langsung oleh Mursyid Thoriqoh Qodiriyah wa Naqsabandiyah (TQN) Mranggen, KH. Muhammad Hanif Muslih yang saat ini sedang melangsungkan ibadah umroh, acara silaturahmi antara mursyid dan jamaah ini berjalan dengan lancar dan kondusif. Sambutan diwakili oleh Gus Ahmad Faizzurrahman yang merupakan putra Kiai Hanif Muslih.

Dalam sambutannya, Gus Faiz menyampaikan rasa terima kasih atas kedatangan tamu jamaah yang sudah menyempatkan waktunya untuk datang ke Mranggen.

“Semoga pertemuan ini menjadi jalan untuk kita bisa menjalin ikatan yang kuat antar sesama,” ucapnya.

Gus Faiz mengajak para jamaah untuk menapaki jalan panjang sejarah Futuhiyyah berkecimpung dengan pengajaran Thoriqoh, khususnya Thoriqoh Qodiriyah wa Naqsabandiyah.

“Marilah kita menapak tilas berjalannya Thoriqoh Qodiriyah wa Naqsabandiyah yang memiliki sejarah panjang ini,” ujarnya.

Bila ingin mengetahui seluk beluk TQN, kata Gus Faiz, hadirin bisa membaca buku yang sudah dianggit oleh KH. Muhammad Hanif Muslih.

Merespons apa yang disampaikan Gus Faiz, Kiai Mujiono selaku ketua rombongan menghaturkan terima kasih.

“Saya mewakili jamaah mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Shohibul Bait yang telah menyambut kami dengan baik. Dan kami meminta izin untuk bisa menjalankan ibadah sholat jamak taqdim untuk perjalanan pulang nanti,” ucapnya.

Sementara itu, KH. Helmi Wafa yang memberikan mauidhoh dalam acara itu menyampaikan pentingnya kita mengikuti Thoriqoh untuk menjalani kehidupan.

”Kita mengikuti dan menjalankan amalan-amalan dzikir serta merta memiliki manfaat yang sangat besar bagi yang mengerjakan. Segala rutinitas kehidupan yang sangat padat akan hal-hal yang buruk menjadikan hati kita merasa khawatir dan mudah was-was. Ini semua karena kurangnya dzikir yang kita lakukan setaip hari. Demi menciptkan hati yang tentram dan damai kita usahakan untuk melanggengkan aktivitas dzikir kita setiap hari,” ucap beliau dalam mauidhohnya.

KH. Helmi Wafa juga menjelaskan letak perbedaan antara dzikir biasa dan dzikir yang menjadi amalan-amalan dalam thoriqoh.

“Dalam menjalankan dzikir kita bisa menggolongkan menjadi dua yaitu dzikir umum dan dzikir khusus. Dzikir umum merupakan dzikir yang biasa orang-orang lakukan setiap hari dan tidak membutuhkan adanya guru  yang membimbing. Dzikir umum tersebut dilafadzkan seperti membaca subhanallah wa bihamdik. Sedangkan dzikir khusus harus melewati perantara guru pembimbing atau disebut juga Mursyid,” pungkasnya. (Hilman)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar