Pesantren dan Upaya Pencegahan Radikalisme - Pondok Pesantren Futuhiyyah

Breaking

Random posts

Senin, 29 Oktober 2018

Pesantren dan Upaya Pencegahan Radikalisme



Oleh Moh. Salapudin

Santri Pondok Pesantren Futuhiyyah

Indonesia sesungguhnya masih belum benar-benar aman dari ancaman terorisme. Menurut data peringkat terorisme yang dirilis Institute of Economic and Peace di penghujung tahun 2015, Indonesia menempati posisi ke-33 dari 162 negara. Indeks terorisme global Indonesia juga berada pada angka 4,79 dengan skala rentang 10-0.

Tahun-tahun berikutnya tampaknya kita belum beranjak. Aksi baku tembak di Sarinah dan bom bunuh diri di Markas Kepolisian Resor Kota (Polresta) Surakarta menjadi bukti bahwa tahun 2016 terorisme masih menghantui kita. Demikian juga dengan Bom Kampung Melayu yang terjadi di tahun 2017. Bahkan di medio awal tahun ini saja, sudah terjadi kurang lebih lima aksi terorisme. Yang paling mencengangkan, pelaku melibatkan anaknya yang masih di bawah umur dalam aksinya.

Apa yang menyebabkan seseorang menjadi sedemikian bengis sehingga tega membunuh sesamanya dengan cara yang sangat brutal?

Menurut Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) embrio lahirnya terorisme adalah radikalisme. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mengartikan radikalisme sebagai paham atau aliran yang menginginkan perubahan atau pembaharuan sosial dan politik dengan cara kekerasan atau drastis.

Ada beberapa ciri yang bisa dikenali dari sikap dan paham radikal menurut BNPT, yaitu pertama intoleran (tidak mau menghargai pendapat dan keyakinan orang lain). Kedua fanatik (selalu merasa benar sendiri; menganggap orang lain salah). Ketiga eksklusif (membedakan diri dari umat Islam umumnya), dan keempat revolusioner (cenderung menggunakan cara-cara kekerasan untuk mencapai tujuan).

Di Indonesia sendiri, menurut analisis Iding Rosyidin (2017), kaum radikalisme sudah muncul sejak era perjuangan. Mereka adalah kaum tekstualis-radikal yang meminta dan memaksa agar Islam dimanifestasikan dalam kehidupan politik. Mereka ingin menjadikan Indonesia sebagai Negara Islam.

Dalam pandangan mereka, menjadikan Indonesia sebagai Negara Islam adalah jihad. Sehingga, orang-orang yang tidak sependapat dengan mereka berarti menghalangi cita-cita mereka dan karenanya halal darahnya. Di mata mereka, serentetan kekejaman yang mereka lakukan adalah suatu ibadah yang kalaupun mereka kemudian mati sudah ada bidadari yang menunggu mereka di surga.

Berseberangan dengan kelompok tekstualis-radikal, ada kelompok kontekstualis-moderat yang meyakini bahwa Islam tidak harus dimanifestasikan secara formal. Bagi kelompok ini, yang paling penting adalah implementasi nilai-nilai Islam meskipun dalam bentuk sekuler. Sebuah negara, misalnya, tidak harus Islam, tetapi sepanjang menegakkan hukum dan keadilan untuk semua, maka negara tersebut “sudah Islam”. Dalam kelompok inilah, pesantren-pesantren, terutama yang berafiliasi dengan Nahdlatul Ulama (NU) berada.

Kaum pesantren melihat pola hubungan agama dan negara dengan apa yang oleh Abdurrahman Wahid (Gus Dur) (1998) disebut sebagai paradigma simbiotik. Sebuah paradigma di mana agama dan negara diletakkan pada posisi yang memiliki hubungan saling mengisi satu sama lain. Bukan paradigmaa integralistik yang menjadikan agama dan negara menjadi satu entitas, atau paradigma sekularistik yang menjadikan agama dan negara berdiri sendiri secara tegas dan dipisahkan oleh garis demarkasi di mana yang satu tidak boleh mencampuri yang lainnya.

Pandangan kenegaraan kaum pesantren

Pandangan kenegaraan kaum pesantren tersebut melahirkan sikap toleransi yang di antaranya dibuktikan dengan penerimaan Pancasila sebagai dasar negara pada Musyawaah Nasional (Munas) Alim Ulama NU di Situbondo, Jawa Timur pada tahun 1983. Penerimaan Pancasila sebagai dasar negara dilandasi pemahaman bahwa dengan Pancasila, kapital sosial berupa keragaman agama, suku, ras, dan golongan dapat terawat dengan baik (Helmi Faishal Zaini, 2017).

Bahkan salah satu klausul “Deklarasi tentang Hubungan Pancasila dengan Islam” yang dirumuskan di Situbondo menyatakan bahwa penerimaan dan pengamalan Pancasila merupakan perwujudan dari upaya umat Islam Indonesia untuk menjalankan syari’at agamanya (NU On Line, 16/12/2015). Hal ini menunjukkan bahwa para kiai pesantren memandang Pancasila bukan saja tidak bertentangan dengan Islam, tetapi bahkan memuat nilai-nilai Islam itu sendiri.

Peran kiai pesantren

Corak keislaman yang moderat seperti ditampilkan oleh kalangan pesantren tak lepas dari jasa para kiai. Para kiai, dengan karisma yang dimilikinya, menanamkan ajaran Islam yang tawasuth (moderat), tawazun (seimbang), dan tasamuh (toleran) kepada para santrinya. Salah satunya adalah Kiai Ahmad Shiddiq (1926-1991).

Dalam rangka membimbing umat agar senantiasa bersikap moderat dan toleran, Kiai Ahmad Shiddiq merumuskan tiga model ukhuwah yang sangat terkenal, yaitu Ukhuwah Islamiyyah (persaudaraan sesama umat Islam), Ukhuwah Wathaniyyah (persaudaraan sesama bangsa), dan Ukhuwah Basyariyyah (persaudaraan sesama umat manusia).

Tiga konsep ukhuwah tersebut antara satu dan yang lain harus berkait kelindan dan berjalan seayun seiringan. Ukhuwah Basyariyyah menyasar konteks hubungan antarsesama manusia; Ukhuwah Wathaniyyah membidik persaudaraan atas dasar rasa kebangsaan; sementara Ukhuwah Islamiyyah dimaksudkan untuk mempererat persaudaraan berbasis keislaman (Helmi, 2018: 16).

Dengan mengamalkan tiga model ukhuwah tersebut, seseorang tidak punya peluang dan alasan untuk menyakiti orang lain. Sesama orang Islam tidak menyakiti satu sama lain karena terikat Ukhuwah Islamiyyah, sesama warga negara tidak menyakiti satu sama lain karena terikat Ukhuwah Wathaniyyah, dan sesama manusia tidak menyakiti satu sama lain karena terikat Ukhuwah Basyariyyah.

Islam moderat

Bila seperti disinggung di awal tulisan, bahwa asal muasal terjadinya terorisme adalah paham radikalisme, maka upaya preventif yang dapat kita lakukan adalah dengan mangarusutamakan paham-paham Islam yang moderat. Sebab seseorang bertindak berdasarkan apa yang ada dalam pikirannya. Bila isi kepalanya moderat, maka tindakannya pun moderat.

Itulah yang dilakukan kaum pesantren selama berabad-abad. Walhasil, peran kaum pesantren dalam menangkal radikalisme melalui penyebaran paham-paham Islam yang moderat tidak diragukan lagi. Bahkan saya mempunyai keyakinan, seandainya orang-orang belajar agama Islam pada kiai-kiai pesantren, niscaya tidak ada lagi teroris yang tega membunuh sesamanya dengan alasan agama. Wallahu A’lam Bis Shawab.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar