Sajak-Sajak Alif Kurniawan - Pondok Pesantren Futuhiyyah

Breaking

Random posts

Minggu, 07 Oktober 2018

Sajak-Sajak Alif Kurniawan

sumber: google


Eligi  Pagi

Pagi tanpa suara, membunyikan bisu pada dunia.
Tak terdengar benar, tapi cukup untuk kau rasakan.
Sudahkah sejatinya engkau terbangun ?
Setidaknya membuka mata, melihat cakrawala.
Melihat panorama tuhan yang menyuguhkan
ciptaan atau kebesaran.
Kali ini Aku dan puisi dungu.
Yang tak mendengar dari indra rungu.
Hanya imaji yang membuat diksi ini menyanyikan lagu.
Walaupun  masih tanpa nada.
Entah dengan bisikan aku mendengar,
atau dengan rasa aku meraba
Aku temukan dirimu dari kebisuanku
Menjadikan pagi tanpa suara
menjadi sajak dengan riuh ia tercipta,
Tapi tetap sama, ia masih tanpa nada.
Manjadikan bisu pada dunia, menjadi lantang penuh makna
dengan segala  pengartian.
Tapi masih sama, ia masih tanpa nada.
Semuanya masih sama dengan segala perubahanya,
tapi masih sama pula ia tanpa nada.
Hingga yang tak terkira baru kau rasa
Nada yang muncul akan terdengar
ketika kau sedang membaca.


Embun rinduku
Menyisahkan sisa yang menjadi sebuah awalan panjang.
Entah sebab sisa hujan semalam,
 atau cipta klorofil yang mewujudkan.
Dengan sebening titik. Awal kebaikan,
Pagi manafsirkan.
Hai Pagi, kau masih tampak alami kali ini.
Dengan tanpa noda yang mengeriangi atau
asap-asap yang belum menyatu pada pagi, yang kadang
menghilangkan asri pada pagi dibumi.
Hadirku tiada lama, tak menentu.
 Hingga saatnya
kuhilang karna surya memanggilku .
Juga Kedatangaku tak bermaksud,
hanya saja sedang menyampaikan jeda
yang akan terulang lagi pada mereka yang menunggu.
Ya, Antara mereka yang di pisahkan pada jarak tertentu,
yang masih menunggu.
Mungkin kau bisa artikan kedatanganku
sebagai awal penantianmu,
walau  jelas aku akan hilang.
Dan Kau bisa artikan kedatanganku sepertinya juga.
dengan perumpamaan bahwa rindu juga akan hilang
setelah penantian yang sudah dipertemukan.
Sama bukan sepertiku tentang apa
yang kau rasakan saat merindu.
Akan hilang dengan cepat
 seperti embun yang dipanggil sinar,
dan akan menunggu lama seperti embun
yang menunggu pagi untuk kembali.
Sejukku saja yang kau sandarkan saat demikian,
Embun.....


Seberkas cahaya

Datangnya senyap tak berayap,
Diikuti hangat ramah ia mengajak melihat dunia.
Seindah inikah dunia karnaku?
Aku bermasam riang,
Kemudian eligi pagi bermunculan,
tapi ini bukan soal puisi dunggu lagi,
Melainkan seriangan yang setidaknya menampakan .
Tentang cahaya, tentang sinar dan tentangmu.
Dan ingat, Gelap bukan musuhku
justru temanku yang menggantikan,
Bahkan menunggu.
Hai aku panggil dirimu, tak dengarkah kau disana.
Fajar........
Sampaikan salam pada bumi,
aku datang mengabarkan penuh keriangan.
Aku datang penuh kebahagiaan.
Dan aku juga datang penuh dengan harapan.
Setidaknya aku bisa menghangatkanmu,
setelah semalam kau diperdingin oleh angin-angin rindu
yang selalu kau timpa,
bahkan sengaja kau temui tiap kau memikirkanya.
yang pernah dekat sedekat nadi bersamamu.
Aku berharap, kau kembali hangat
sehangat masa lalu indahmu.
Yang berbeda hanya, sebuah Tanpa.
Yang memaksa untuk menderita.


Masih terlalu pagi

Masih berat membuat mata ini untuk terbelalak.
Raga ini pun masih menggigil diterpa perindu-perindu
yang menjelma sebagai hembusan semalam.
Kicauan syair burung pipitpun tak
membuatnya tergerak berucap,
walaupun hanya sepotong syair balasan padanya.
Apalagi untuk menginjakan pada unsur manusia berwujud.
Masih nyaman dengan balutan selimut ini.
Setidaknya hawa perindu semalam sedikit menghilang.
Katanya sambil mempererat pada guling didepanya.
Dari raga yang mulai mengacau,
Dibayangi tak kepastian hari ini.
“ Bahwa rasa yang tak seperti hari-hari kemarin terus menerus kucoba
Untuk merubah nasibnya.
Tapi apa daya semuanya kembali pada semula “.
Jadi lebih baik kuputuskan saja kembali bermimpi.
Karna saat itulah kenyataan itu terealisasikan.
Bukan pemalas, juga bukan pengkhayal.
Hanya pilihan saja yang membuat
 rasa jeda sakit dan rasa bahagia
Menyatu pada irama bungga tidur yang dinanti.
Hahhhh.......
Kantuk cinta namanya,
 Manjanya memang bikin kepayang.
Tak mau beranjak pulang untuk
 kembali pada pembangunan.
Dan sekarang waktunya. Belajar memejamkan mata.
Semakin dalam, semakin dalam dan matapun....
Terbuka,
Karna lupa membaca doa.


Terbangun

Memulai mengintip dengan sipit-sipit memanjai.
Mata yang masih rabun dengan kebinaran yang asri.
Buram-buram klise kehidupan mulai terisi
pada pelupuk mata ia berseri.
Kulihat pandangan telah terbuka dari sebujur tirai
Dekat jendela-jendela rusuk jati.
Mungkin bunda yang membukakanya
karna tergeleng melihat anaknya
 sungkan untuk terbuka dari nikmatnya.
Terlihat juga pipit eligi yang dari tadi
 setia bersyair untuknya.
Menemani tidurnya, juga Menyanyikan lagu cinta
untuk tidurnya yang pernah di mabuk asmara,
dan juga Mendendangkan untuk telinga yang
bersedia mendengar celotehnya, tentang cinta.
Kadang kesal mendengar syair itu,
seperti menghardik pada kenyataanya.
Soal cinta yang hilang menjadi kerinduan yang tak terduga.
Menjadikan kenangan yang setiap gelap, hadirkan kesedihan.
Atas rindu yang tak akan lagi bertemu,
Hanya kekesalan yang setia mencumbuinya.
Yang selalu menemuinya.
Tentang seseorang yang masih terpampang
Dalam bingkai kamar dekat arloji jerman ia memasangkan.
“ Tak bisakah kau merubah dirimu menjadi pagi yang dinanti ”. Gumanya.
Kemudian berjalan membuka jendela.
Bumi...., aku tak sengaja terbangun kali ini.


Seguyur air

Teringat puisi lamaku...
“ Menambah menghangatkan atau bahkan
melenyapkan yang terbakar.
Kadar kesesuaian yang dibutuhkan,
bukan ego yang menjadi dalang “.
~Api .
Setelah tadi meyapa padanya.
Terik mengejek dengan seberkas cahaya.
Disindir dengan silau yang menandakan
kau terlambat dalam berasa.
Mencintai tak semudah memakan pagi bukan.
Sebentar terpejam, sudahlah hilang.
Hahh.....yang benar saja.
Yang benar mencintai ibarat memegang api.
Kuat tak kuat seseorang
 harus menahan baranya.
Menahanya panasnya, Bahkan menahan deritanya.
Sejenak hati ini kalang kabut.
Antara mengiyakan atau menelaahnya dalam-dalam.
Pusaran gejolak memanas menemui ujung-ujung indra
Yang masih bekerja pada porosnya.
Kaki mengeliat kepanasan, tangan mengepal
menahan kehangatan diluar batas.
Asap setan bermunculan menandakan kepala yang
Mendidih Karna suatu hal.
Bahkan sudah memaki pada terik yang bermunculan.
“ Sialan kau......!!!!”.
Nada keras tanda tak penerimaan.
Tapi ..........
Kemudian ia berfikir panjang sambil
 merasakan gejolak yang dirasakan.

Huhhhh...
untung hanya khayalan, hanya sebuah perasaan saja.
Kalau benar, aku akan hangus karnanya.
Dan Mungkin seguyur air akan
menjadi lawan dan menjadi penenang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar