Teladan Nasionalisme dari Kiai untuk Santri* - Pondok Pesantren Futuhiyyah

Breaking

Random posts

Senin, 22 Oktober 2018

Teladan Nasionalisme dari Kiai untuk Santri*



Oleh Moh. Salapudin
Santri Pondok Pesantren Futuhiyyah Mranggen Demak
Sikap nasionalisme para kiai di Nusantara ini tidak diragukan lagi. Sejarah telah mencatat bahwa kiai memiliki peran yang sangat penting baik dalam mewujudkan kemerdekaan Indonesia maupun dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Di masa penjajahan, para kiai, guru tarekat, dan santri merupakan kelompok yang tak henti-hentinya melakukan perlawanan. Bahkan menurut uraian Agus Sunyoto (2013), dalam kurun waktu satu abad, tahun 1800-1900, terjadi 112 pemberontakan yang dipimpin oleh para guru tarekat dan pesantren.
Salah satu kiai yang memiliki andil besar dalam melakukan perlawanan terhadap kaum penjajah adalah KH. Hasyim Asy’ari. Pendiri Nahdlatul Ulama (NU) dan pengasuh pondok pesantren Tebuireng Jombang ini dikenal memiliki sikap yang kurang manis terhadap penjajah Belanda. Ketika Belanda mempropagandakan biaya haji, dengan keras ia menentangnya. Ia memfatwakan bahwa pergi haji dengan kapal Belanda hukumnya haram. Ia juga sempat mendekam di penjara pada masa penjajahan Jepang karena menolak “seikerei”,cara memberi hormat pada kaisar Jepang dengan menundukkan badan ke arah Tokyo (Muhammad Hasyim dan Ahmad Athoillah, 2009: 14).
Bersama kiai lainnya seperti KH. Abdul Wahab Chasbullah, KH. Hasyim Asyari juga merupakan tokoh di balik apa yang oleh Agus Sunyoto (2016) disebut sebagai peristiwa penting yang merupakan rangkaian sejarah perjuangan Bangsa Indonesia melawan kolonialisme, yaitu “Resolusi Jihad  Fi Sabilillah”.
Seperti diketahui, pada tanggal 21 Oktober 1945 di kantor PB ANO (Ansor Nahdlatul Oelama) di Jalan Bubutan VI/2 Surabaya, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengundang konsul-konsul NU di seluruh Jawa dan Madura. Dalam rapat PBNU yang dipimpin Ketua Akbar KH. Abdul Wahab Chasbullah, ditetapkan satu keputusan dalam bentuk resolusi yang diberi nama “Resolusi  Jihad Fi Sabilillah” yang mewajibkan secara fardlu ‘ain(kewajiban bagi setiap individu Muslim) untuk berperang menolak dan melawan penjajah bagi tiap-tiap orang Islam yang berada dalam jarak lingkaran 96 km dari tempat masuk dan kedudukan musuh.

Seruan jihad dari PBNU ini dalam tempo singkat mengguncang Surabaya. Seruan yang bergema dari masjid ke masjid ini disambut dengan sukacita oleh masyarakat Surabaya yang sepanjang September sampai Oktober telah meraih kemenangan melawan sisa-sisa tentara Jepang. “Resolusi Jihad Fi Sabilillah” yang dimaklumkan pada tanggal 22 Oktober 1945 itu merupakan cikal bakal ditetapkannya tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional (Hasan).
Selain KH. Hasyim Asy’ari, kiai yang memiliki andil besar dalam melakukan perlawanan terhadap kaum penjajah adalah KH. Zaenal Mustafa. Ia merupakan pemimpin pondok pesantren Sukamanah di Tasikmalaya dan pejuang Islam pertama dari Jawa Barat yang mengadakan pemberontakan terhadap pemerintah Jepang (Sindonews/9/08/2015).

Sejak tahun 1940, KH. Zaenal Mustafa secara terang-terangan mengadakan kegiatan yang membangkitkan semangat kebangsaan dan sikap perlawanan terhadap pendudukan penjajah. Ia selalu menyerang kebijakan kolonial Belanda yang kerap disampaikannya dalam ceramah dan khutbah-khutbahnya. Pada 17 November 1941, setelah Perang Dunia II, KH. Zaenal Mutafa bersama KH. Ruhiyat (Pesantren Cipasung), Haji Syiro, dan Hambali Syafei ditangkap Belanda dengan tuduhan telah menghasut rakyat untuk memberontak terhadap pemerintah Hindia Belanda.
Pada tahun 1942, ketika kekuasaan berpindah ke tangan Jepang, KH. Zaenal Mustafa dibebaskan dengan harapan mau membantu Jepang. KH. Zaenal Mustafa dengan tegas menolaknya. Dalam pidato singkatnya, pada upacara penyambutan kembali di pesantren, ia memperingatkan para pengikut dan santrinya agar tetap percaya pada diri sendiri dan tidak mudah termakan oleh propaganda asing. Ia bahkan memperingatkan bahwa fasisme Jepang lebih berbahaya dari imperialisme Belanda.
Zaenal Mutafa dikenal sebagai kiai pemberani. Suatu hari seluruh alim ulama berkumpul di alun-alun Singaparna dan harus melakukan seikerei. Di bawah todongan senjata, semua ulama terpaksa melakukan seikerei, hanya KH. Zaenal Mustafa yang membangkang. Perjuangan dan jasa KH. Zaenal Mustafa kemudian diangkat dan diabadikan dalam film berjudul “Sang Singa Singaparna”.
Hasyim Asy’ari dan KH. Zaenal Mustafa hanyalah dua di antara banyak kiai yang berjuang melawan penjajah. Selain dua kiai di atas masih banyak kiai dari kalangan tarekat dan pesantren sepertiImam Bonjol, Pangeran Diponegoro, Pangeran Antasari, Sultan Agung, Sultan Babullah, Sultan Hasanuddin, Teuku Umar, Cut Nya Dien, Cut Meutiah, dan Teungku Fakinah (Nasaruddin Umar, 2014: 65). Ada juga Kiai Sumo Gunardo dari Parakan, Temanggung, dan KH. Saifuddin Zuhri dari Sokaraja, Banyumas, yang memimpin laskar Hizbullah bersama-sama pasukan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) di bawah pimpinan Kol. Sudirman bertempur dalam “Perang Ambarawa” (Lukman Hakim Saifuddin dkk, 2013:19).
Tiga cara

Sikap nasionalisme para kiai sebagaimana digambarkan di atas, pada dasarnya bukan semata wujud sikap individu mereka terhadap negara, tetapi lebih dari itu adalah upaya mereka untuk menanam dan menumbuhkan nasionalisme pada santri-santrinya. Dan kalau kita cermati lebih jauh, para kiai memiliki upaya yang bermacam-macam dalam menumbuhkan nasionalisme para santri. Penulis mengidentifikasi setidaknya ada tiga (3) cara yang ditempuh para kiai dalam menumbuhkan nasionalime santri-santrinya, yaitu (1) melalui perintah atau komando, (2) melalui aktivitas pendidikan, dan (3)melalui syair atau lagu kebangsaan.

Apa yang dilakukan oleh KH. Hasyim Asy’ari, KH. Zaenal Mustafa, Kiai Sumo Gunardo, KH. Saifuddin Zuhri, dan kiai-kiai lainnya terutama para kiai yang memimpin secara langsung sejumlah perlawanan terhadap penjajah, adalah contoh dari cara pertama. Para kiai tersebut memberikan komando secara langsung kepada santrinya untuk berperang melawan penjajah. Tak hanya memerintah santri-santrinya untuk berperang, para kiai tersebut tak jarang juga turut memimpin perlawanan. Mereka bahkan mengajarkan ilmu bela diri kepada santri-santrinya sebagai bekal dalam melakukan perjuangan.
Cara kedua dapat kita lihat misalnya pada apa yang dilakukan oleh KH. Abdul Wahab Chasbullah. Bermula dari kegelisahan melihat tekanan demi tekanan yang dilakukan oleh pihak Belanda kepada rakyat Indonesia, muncul gagasan dari Mbah Wahab -bagitu sapaan akrab KH. Abdul Wahab Chasbullah- untuk membentuk sebuah kelompok diskusi yang salah satu agendanya adalah membahas nasib masyarakat Indonesia di masa yang akan datang. Dibantu oleh koleganya saat belajar di Mekah, KH. Mas Manshur, Mbah Wahab mendirikan kelompok diskusi yang kemudian diberi nama “Tashwirul Afkar” (pergerakan pemikiran).
Dalam masa-masa pertama pembentukannya, Tashwirul Afkar hanya diikuti oleh peserta dalam jumlah yang sangat terbatas. Namun lama kelamaan banyak dari kalangan pemuda terpelajar dan tokoh agama yang turut bergabung. Tashwirul Afkar saat itu menyebar ke hampir seluruh kota di Jawa Timur, bahkan gaungnya terdengar sampai ke luar jawa (Muhammad Hasyim dan Ahmad Atho’illah 2009: 22).
Cara ketiga, seperti dijelaskan Rikza Chamami dalam artikel berjudul “Dua Ulama Pencipta Lagu Kemerdekaan Khas Pesantren” yang dimuat NU On Line pada 15 Agustus 2016,  dilakukan oleh sepasang guru dan murid: KH. Asnawi Kudus dan KH. Abdul Wahab Chasbullah. Dua kiai ini dikenal sebagai sosok yang ahli membuat syair.

Syair kebangsaan karya KH. Asnawi, menurut Chamami sangat populer di kalangan santri Kudus. Syair tersebut berbunyi: Sungguh kemerdekaan telah jelas bagi bangsa Indonesia//Seluruh bangsa bergembira selamanya//Karena untuk mendapatkan itu dibutuhkan perjuangan total//Di bawah jajahan kolonial Jepang dan Belanda//Ada yang diasingkan di Digul Irian Jaya//Ada juga yang dipenjara dengan penuh kepedihan//Sungguh mereka benar-benar ikhlas mengkhidmahkan diri untuk negara//Jiwa kebangsaan menggerakkan mereka berjuang secara nyata//Demi bangsa dan negara//Semoga Tuhan membalas perjuangan mereka//Dengan menjaga kemerdekaan berpendapat yaitu demokrasi//Menuju kemakmuran keadilan sosial.
Adapun penggalan syair kebangsaan karya Mbah Wahab berjudul “Ya Lal Wathon” yang belakangan juga sering dibawakan dalam acara-acara NU dan pondok pesantren adalah: Pusaka hati wahai tanah airku//Cintamu dalam imanku//Jangan halangkan nasibmu//Bangkitlah, hai bangsaku!//Indonesia negriku//Engkau panji martabatku//S’yapa datang mengancammu//’Kan binasa di bawah dulimu!”
Bukan tanpa alasan

Para kiai menempuh tiga cara tersebut dalam menumbuhkan nasionalisme santri bukanlah tanpa alasan. Kalau kita kaji lebih dalam, masing-masing cara memiliki alasan yang kuat.

Cara pertama (komando/perintah) ditempuh karena kiai merupakan tokoh panutan santri. Perintah (amr), sebagaimanan dijelaskan Abdul Hamid Hakim dalam “Mabadi Awaliah, adalah tuntutan melakukan sesuatu dari atasan kepada bawahan (thalabu al-fi’li mina al-a’la ila al-adna). Jika mengacu pada apa yang diuraikan oleh Abdul Hamid Hakim tersebut, maka jelas bahwa posisi kiai adalah “atasan” (al-a’la).

Sebagai “atasan”, kiai memiliki kekuatan (power) yang bukan saja legitimed, tetapi juga strategis dalam memobilisasi santri. Apalagi, selain sebagai atasan kiai juga berperan sebagai tokoh panutan yang karena kedekataannya dengan Tuhan dinilai memiliki pandangan yang lebih baik sehingga apapun dawuh-nya akan dipatuhi santrinya. Inilah yang dalam komunitas pesantren, -meminjam redaksi Al-Qur’an- dikenal dengan istilah “sami’na wa atha’na”.

Mindsetsami’na wa atha’na” hampir dimiliki oleh setiap santri di pondok pesantren dan tetap dijaga bahkan sampai sang santri menjadi kiai atau tokoh masyarakat. Maka menjadi tak mengherankan bagi kalangan pesantren bila Abdurahman Wahid (Gus Dur) ketika diwawancari Andy F Noya dalam acara “Kick Andy”yang ditayangkan salah satu stasiun televisi swasta mengaku memiliki beberapa tokoh kiai yang apa saja perintahnya akan dilaksanakan. “Apa saja, kalau disuruh masuk apiya masuk api. Tanpa pikir panjang,” kata Gus Dur.

Hal ini senada dengan apa yang diungkap Martin van Bruinnessen sebagaimana ditulis Affandi Mukhtar dalam “Kitab Kuning dan Tradisi Akademik Pesantren” bahwa pusat dari pondok pesantren tradisional adalah kharisma kiai, peranan, dan kepribadiannya. Inilah yang menjadikan cara kiai menumbuhkan nasionalisme santri melalui perintah/komando menjadi sangat efektif.
Cara kedua ditempuh karena bagaimanapun kiai adalah guru agama. Sebagai guru, tentu tugas utamanya adalah mendidik. Memang pada mulanya para kiai hanya mengajarkan ilmu-ilmu seperti tauhid, fikih, tasawuf, dan nahwu. Namun, melihat rakyat Indonesia dibuat menderita oleh kaum penjajah, para kiai tersebut tidak tega untuk tidak memasukkan ajaran-ajaran nasionalisme dalam materi pendidikan.
Maka terbentuklah forum kajian ilmiah seperti Tashwirul Afkar yang mendiskusikan masalah kebangsaan. Tak hanya Tashwirul Afkar, musyawarah-musyawarah yang dilakukan para kiai dan santri juga turut membawa isu-isu kebangsaan dan kenegaraan dalam kajian mereka. Lembaga Bahtsul Masa’il milik NU misalnya, membawa isu kenegaraan dalam Muktamar NU ke-11 yang digelar di Banjarmasin pada tahun 1936 (Solusi Problematika Aktual Hukum Islam; Keputusan Muktamar, Munas, dan Konbes Nahdlatul Ulama 1926-2004, 2007:176).
Ajaran-ajaran nasionalisme yang dibahas dalam forum-forum ilmiah dalam tahapan selanjutnya dimanifestasikan oleh para santri dalam wujud sikap nasionalisme. Apalagi dalam tradisi keilmuan pesantren dikenal aforisme, “Ilmu tanpa amal, bagai pohon tanpa buah” (al-‘ilmu bi la ‘amalin ka syajarin bi la tsamarin). Maka, menumbuhkan nasionalisme santri melalui akivitas pendidikan juga sangat efektif.

Menumbuhkan nasionalisme santri melalui syair atau lagu kebangsaan juga tak kalah efektif. Bila cara pertama dan kedua cenderung lebih cocok dilakukan pada santri dewasa, maka cara ketiga ini bisa dilakukan bahkan pada santri yang masih kanak-kanak. Syair atau lagu kebangsaan karya para kiai itu bisa dibawakan dalam acara-acara formal di pondok pesantren sebagaimana  lagu “Ya Lal Wathon” karya Mbah Wahab, dimanfaatkan sebagai puji-pujian menjelang salat, atau dibawakan dalam nuansa non formal sebagaimana banyak anak menyanyikan lagu “Ilir-ilir” karya Sunan Kalijaga.
Pesan nasionalisme dalam syair kabangsaan karya para kiai sangat kuat. Lihat saja misalnya pada syair karya Mbah Wahab, dalam salah satu baitnya terdapat sepenggal kalimat yang sangat indah, yaitu: “hubbul wathan mina al-iman” (mencintai tanah air adalah sebagian dari iman). Dalam beragama, keimanan adalah hal yang paling penting. Maka, mengkorelasikan nasionalisme dengan keimanan adalah strategi yang sangat cerdas dalam menumbuhkan nasionalisme.

Bila syair atau lagu kebangsaan yang sarat akan pesan nasionalisme itu dinyanyikan secara berulang-ulang, pada gilirannya akan memupuk dan menumbuhkan nasionalisme para penyanyi dan pendengarnya.Sebabmenurut teori psikologis kognitif, apa yang dipikirkan, dirasakan, dan dilakukan seseorang, merupakan resultante dari pelbagai informasi yang diterima berulang-ulang.

Diteruskan sampai sekarang

Sikap nasionalisme yang ditunjukkan para kiai pendahulu tersebut diteruskan oleh para kiai generasi selanjutnya sampai sekarang.Memang nasionalisme zaman sekarang bukan lagi diwujudkan dalam bentuk perang, sebab selain sudah bukan di zaman peperangan, musuh bersama kita sekarang ini adalah penjajah ekonomi di sektor-sektor strategis seperti pertambangan dan korupsi. Terhadap musuh-musuh bangsa sekarang itu, para kiai tidak diam.

Ketika terjadi kisruh antara pemerintah dengan PT Freeport Indonesia yang tak kunjung menerima Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK) yang disodorkan pemerintah, misalnya, KH. Said Aqil Siraj (Ketua PBNU) berdiri tegak di belakang pemerintah. “Saya di sini diskusi, mendukung, memberi masukan tentang Freeport, bahwa saya di belakang Pak Menteri Jonan,” kata KH. Said Aqil Siraj sebagaimana dikutip Detik.com pada Senin (20/02/2017).

NU juga membahas masalah korupsi dalam Musyawarah Nasional Alim Ulama (Munas) NU tentang masalah Maudhu’iyyah Siyasiyyah di Asrama Haji Pondok Gede Jakarta pada 25-28 Juli 2002 di mana hasil Munas tersebut menyatakan bahwa koruptor layak dihukum potong tangan sampai dengan hukuman mati (Solusi Problematika Aktual Hukum Islam, 2007:690).
Para kiai yang mengisi ceramah-ceramah di tengah masyarakat juga acap kali memasukkan nilai-nilai nasionalisme dalam materi ceramahnya. Di antarapenceramah yang ceramahnya dikenal sarat nilai-nilai nasionalisme adalah Habib Luthfi dari Pekalongan, Jawa Tengah. Ia bahkan memiliki syair kebangsaan yang selalu di bawakannya setiap kali mengisi ceramah.
Penulis sendiri memiliki pengalaman tak terlupakan ketika mengikuti pengajian Habib Luhfi. Saat itu Habib Luthfi mengisi pengajian di daerah Krapyak, Semarang. Seperti dalam pengajian Habib Luthfi biasanya, dalam susunan acaranya terdapat acara “menyanyikan lagu Indonesia Raya”. Saat itu, kedatangan Habib Luthfi bertepatan dengan acara menyanyikan lagu “Indonesia Raya”. Habib Luthfi yang dikawal beberapa Banser dan baru melangkah beberapa jangkah, sontak berhenti sampai lagu kebangsaan selesai didengarkan.
Mendidik dengan teladan

Seluruh tulisan di atas menjadi bukti yang kuat bahwa para kiai memegang peranan penting dalam mewujudkan kemerdekaan dan menjaga keutuhan NKRI. Para kiai memiliki sikap nasionalisme yang bukan saja diekspresikan secara pribadi, tetapi juga ditularkan pada santri-santri dan pengikutnya. Meski dengan cara yang berbeda-beda, bila disimpulkan dalam satu kata, cara para kiai mendidik agar para santrinya memiliki sikap nasionalisme, adalah dengan teladan (uswah).

Teladan adalah salah satu metode mendidik paling baik. Sebab dengan teladan, para murid tidak kebingungan dalam melaksanakan ajaran-ajaran yang diajarkan sang guru. Maka, teladan nasionalisme para kiai adalah sebaik-baik pendidikan nasionalisme bagi para santri. Dengan demikian penulis setuju pendapat Hanif Dhakiri (2014) bahwa kiai adalah peletak dasar nasionalisme dan patriotisme.Wallahu A’lam Bishawab.

*artikel ini merupakan juara pertama lomba esai hari santri nasional tahun 2017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar