Peringati Maulid Nabi, Futuhiyyah Hadirkan KH. Ali Badri - Pondok Pesantren Futuhiyyah

Breaking

Random posts

Senin, 26 November 2018

Peringati Maulid Nabi, Futuhiyyah Hadirkan KH. Ali Badri




Pondok Pesantren Futuhiyyah, Nurul Burhany 1, dan Nurul Burhany 2 Mranggen menggelar acara Maulid Nabi Muhammad SAW pada Sabtu malam (24/18) di Masjid An-Nur. Ribuan santri dari tiga pondok tersebut memadati lokasi acara. Hadir dalam kegiatan tersebut KH. Helmi Wafa (Pengasuh Nurul Burhany 1), KH. Ahmad Faizurrahman Hanif  (pengasuh Nurul Burhany 2) dan KH. Husni Farouq Hanif (Wakil pengasuh ponpes Futuhiyyah). Peringatan Maulid Nabi kali ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya karena menghadirkan KH. Ali Badri dari Pasuruan Jawa Timur.

Syair-syair memuji nabi (burdah) yang dibaca pada malam tersebut bukanlah syair-syair karangan Syekh Ad Dziba’i atau Simtud Duror sebagaimana biasanya, melainkan syair-syair karangan KH. Ali Badri sendiri. Tidak sepeti kebanyakan burdah yang menggunakan bahasa Arab, burdah karya KH. Ali Badri disusun menggunakan Bahasa Indonesia. Syair-syair tersebut, meski berbahasa Indonesia, bisa dilagukan dengan kasidah-kasidah berbahasa Arab seperti “Ya Rasulallah salamun ‘alaik” atau “Thalama asyku gharami”.

Inovasi yang dibangun KH. Ali Badri mendapat sambutan positif dari para santri Futuhiyyah. Terbukti, selama acara para santri bisa mengikuti pembacaan burdah dengan antusias dan khidmat.

“Ternyata, membaca syair-syair Nabi yang berbahasa Indonesia tak kalah nikmatnya dengan membaca syair berbahasa Arab sebagaimana umumnya,” ucap Lutfi Hakim, salah santri Futuhiyyah.

Menurutnya, dengan membaca syair-syair berbahasa Indonesia, kita lebih mudah memahami isi syair tersebut. “Terkadang kita sulit mencerna makna syair berbahasa Arab,” tuturnya, “karena itu dengan syair berbahasa Indonesia kita bisa lebih mudah mencernanya.”

Apa yang disampaikan Lutfi diamini oleh Hilman, santri Futuhiyyah lainnya. Apalagi, kata Hilman, dalam pembacaan syair tersebut KH. Ali Badri meneyelinginya dengan kisah-kisah seputar Rasulullah yang dikandung dalam syair tersebut.

“Kisah bagaimana Nabi datang ke Madinah yang kemudian disambut dengan suka cita oleh penduduk Madinah adalah salah satu kisah yang sangat kuingat,” ujar Hilman. “Saya baru tahu kalau ‘tsaniyatil wada’ adalah nama lorong kecil di Madinah,” tuturnya.

Berdasarkan kisah yang disampaikan KH. Ali Badri, tandas Hilman, pintu masuk menuju Madinah ada dua, yakni pintu utama yang biasa dilalui masyarakat setempat, dan ‘tsaniyatil wada’, lorong kecil yang jarang dilewati masyarakat karena terkenal angker. “Bagaimana Rasulullah masuk melewati ‘tsaniyatil wada’ adalah salah satu mukjizat Rasullullah,” ungkap Hilman menirukan KH. Ali Badri.

Dalam kesempatan itu KH. Ali Badri juga menjelaskan bahwa berwasilah kepada Nabi Muhammad dapat mempercepat terkabulnya doa, seperti yang dialami Nabi Adam AS.

“Ketika Nabi Adam dan Siti Hawa dikeluarkan dari surga karena memakan buah Khuldi akhirnya Nabi Adam dan Siti Hawa berpisah,” cerita KH. Ali badri.

Nabi Adam, lanjutnya, terus berdoa agar dipertemukan dengan Siti Hawa. “Saat itu Nabi Adam teringat nama Muhammad dan berwasilah dengan nama tersebut sehingga tak lama kemudian dipertemukan dengan Siti Hawa,” pungkas KH Ali Badri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar