Tata Krama Ziarah Kubur - Pondok Pesantren Futuhiyyah

Breaking

Random posts

Minggu, 11 November 2018

Tata Krama Ziarah Kubur


Belum lama ini video calon wakil presiden nomor urut 1, Sandiaga Salahuddin Uno, yang melangkahi makam salah satu pendiri Nahdlatul Ulama (NU) KH. Bisyri Sansuri saat berziarah viral di media sosial. Kejadian itu kemudian memancing banyak komentar. Banyak yang menilai Sandi tidak mengetahui tata krama ziarah kubur. Lalu bagaimana tata krama ziarah kubur yang baik? 

Ziarah kubur adalah tradisi Nusantara yang menjunjung tinggi nilai-nilai etika dalam menjalankannya. Karena ziarah kubur memiliki substansi yang tetap memanusiakan dan memuliakan ahli kubur yang diziarahi. Baik itu makam ulama, orangtua, atau siapapun ahli kuburnya. Diajarkan atau tidak, secara naluriah seseorang akan berfikir dan mencari-cari cara bagaimana melakukan sesuatu, dalam hal ini ziarah kubur dengan menggunakan tata krama yang baik, hal ini didorong oleh kepercayaan bahwa ahli kubur dapat mengerti, merasakan dan mendengar siapa yang datang untuk berziarah. 

Pengasuh Pondok Pesantren Futuhiyyah, KH Muhammad Hanif Muslih dalam catatan kecilnya berjudul "Tata Krama Ziarah Kubur" menyebutkan tata krama/adab sebelum masuk maqbarah (pemakaman) dan sesudah berada dalam maqbarah. 

Sebelum masuk komplek makam, peziarah hendaknya mengucapkan salam kepada ahli kubur. Sebagaimana diajarkan Rasulullah Saw. kepada para sahabat dalam hadis riwayat Imam Muslim, Nasa'i, Ibn Majah dan Ahmad dari Buraidah ibn Husaib ra.: 

عن بريدة قال كان رسول الله ص.م. يعلمهم إذا خرجوا إلى المقابر فكان قائلهم السلام عليكم أهل الديار من المؤمنين والمسلمين وإنا إنشاء الله للا حقون أسأل الله لنا ولكم العافية.

Dari Buraidah ra. Rasulullah Saw. mengajarkan kepada para sahaba ketika berziarah kubur, agar mereka mengucapkan, "salam keselamatan bagi kalian, wahai penghuni rumah dari mukminin dan muslimin, kita insya Allah akan bertemu dengan kalian, aku mohon keselamatan kepada Allah bagiku dan kalian."

Selanjutnya dianjurkan untuk melepas sandal, sepatu dan alas kaki yang lain. Sebagaimana perintah Rasulullah Saw. dalam hadis riwayat Imam Abi Dawud, Nasa'i, Ibn Majah dan Imam Ahmad dari Basyir,  (seorang budak yang dimerdekakan Rasulullah Saw.) di bawah ini:

قال بينما أنا أما شي رسول الله ص.م. مر بقبور المشركين فقال : لقد سبق هؤلاء خيرا كثيرا ثلاثا ثم مر بقبور المسلمين فقال : لقد أدرك هؤلاء خيرا كثيرا وحانت من رسول الله ص.م. نظرة فإذا رجل يمشي فى القبور عليه نعلان فقال : يا صاحب السبتيتين ويحك ألق سبتيتيك فنظر الرجل فلما عرف رسول الله ص.م. خلعهما فرمي بهما.

"Sewaktu aku menemani Rasulullah Saw. berjalan-jalan, melewati kuburan kaum musyrikin, beliau bersabda, "Telah terlewatkan bagi mereka kebaikan yang banyak." Beliau berkata demikian sampai tiga kali, kemudian melewati kuburan kaum muslimin, dan bersabda, "Mereka telah mendapatkan kebaikan yang banyak." Ketika pandangan Rasulullah tertuju kepada seorang lelaki, yang sedang berjalan di kubur sambil mengenakan sandal, Rasulullah saw. bersabda, "Hai pemakai sandal celakalah kamu, buanglah kedua sandalmu." Ketika laki-laki itu melihat dan mengetahui Rasulullah Saw., maka ia melepas kedua sandalnya dan membuangnya.

Mengucapkan salam dan melepas alas kaki dalam kehidupan sehari-hari juga disunnahkan ketika bertemu atau berkunjung ke rumah seseorang. Petunjuk Rasulullah juga sangat sederhana dalam hal menghormati ahli kubur yang diziarahi. Tidak berbeda jauh dengan cara menghormati dan memuliakan seseorang dalam kehidupan sehari-hari. 

Sesudah berada dalam maqbarah, peziarah dilarang duduk di atas kubur, termasuk melangkahi atau melewati kuburan. Sebagaimana larangan Rasulullah Saw. dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Nasa'i, Abu Dawud dan Imam Ahmad: 

عن أبى هريرة قال: قال رسول الله ص.م. : لأن يجلس أحدكم على جمرة فتحرق ثيابه فتخلص إلى جلده خير له من أن يجلس على قبر.

Dari Abi Hurairah berkata, Rasulullah saw. bersabda, "Sungguh duduk di atas bara api, kemudian membakar pakaian dan mengelupas kulitnya, itu lebih baik daripada duduk di atas kubur."

Selanjutnya Kiai Hanif mengutip dari Imam Nawawi Ad-Dimasyqi dalam kitab Al-Majmu' Syarah Al-Muhadzdzab beberapa adab/tata krama seperti: menghadap ke kubur, saat membaca salam dan bacaan-bacaan lainnya; menghadap kiblat saat berdoa; boleh ziarah dengan cara berdiri, duduk atau sekedar lewat; mendekat kepada orang yang diziarahi, karena ziarah kubur hakikatnya adalah mendatangi orang yang diziarahi, sebagaimana lazimnya di dunia, maka seyogyanya ketika berziarah, mendekat kepada orang yang diziarahi; dan membaca salam kembali saat akan pulang, salamnya sama dengan salam ketika masuk. 

Etika dalam Islam sangat dijunjung, Rasulullah diutus untuk menyempurnakan akhlak. Tidak heran segala kegiatan dari bangun tidur sampai dengan tidur kembali, etika dalam melaksanakannya diatur dalam Islam, tanpa terkecuali soal ziarah kubur.

Terlepas uraian di atas atau tentang viralnya kasus Sandiaga Uno, kaitannya dengan etika kita sebagai santri, kapan terakhir kali atau kapan lagi hendak ziarah ke makam sesepuh? (Muhammad Khozin)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar