Mbah Muslih Tersohor di Dunia - Pondok Pesantren Futuhiyyah

Breaking

Random posts

Jumat, 07 Desember 2018

Mbah Muslih Tersohor di Dunia

KH Muslih bin Abdurrahman.
KH Muslih Abdurrahman lahir pada 1908 dari pasangan KH. Abdurrahman dan Nyai Shofiyyah. Beliau wafat pada 1981 dan dimakamkan di Ma’la Makkah, yang kebetulan berdampingan dengan makam Sayyidatina Asma’ binti Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq RA. Di depan kompleks makam sayyidatina Khotijah RA, istri Rasullah SAW.

Dari garis ayah, KH Muslih adalah putra seorang ulama besar bernama Abdurrahman bin Qosidil Haq. Bila dirunut ke atas, bertemu dengan Sayyid Abbas RA, paman Rasullah Muhammad SAW.

Pendidikan KH Muslih diperoleh saat belajar dengan orang tuanya sendri. Beliau pernah mengaji dengan KH Ibrohim Yahya (Brumbung Mranggen), di pesantren Mangkang Kulon Semarang, pesantren Sarang Rembang. Kiai Muslih juga pernah nyantri kalong kepada KH Maksum (Lasem Rembang) dan nyantri di pesantren Termas Pacitan. KH Muslih belajar ilmu thoriqoh dan baiat sebagai mursyid di Banten yaitu Syekh Abdul Latif Al-Bantani. Selama beberapa tahun, beliau bermukin di Makkah dan mengaji dengan Syekh Yasin Al-Fadani Al-Makky.

Dari hasil pendidikannya tersebut, KH Muslih termasuk ulama yang memiliki banyak keahliyan. Selain ahli ilmu bahasa Arab (nahwu, shorof, balaqhoh, hingga mantiq dan arudh), ahli ilmu kalam (tauhid), ilmu tasawuf, beliau juga ahli kepemimpinan, ilmu pendidikan, siasah (politik), hikmah hingga ilmu kemiliteran.

KH Muslih merupakan seorang mursyid Thoriqoh Qodriyyah wa Naqsyabandiyyah. Bahkan beliau menjadi Syekhul mursyidin atau gurunya para mursyid. Berdasarkan ilmu yang telah dikuasai, KH Muslih memenuhi persyaratan sebagai guru mursyid. Kata Syekh Abdul Qodir Al-Jaelani, bahwa seorang mursyid itu seharusnya mempunyai ilmu ulama (ahli agama islam), ilmu siasah, (politik) dan ilmu hikmah (kebijaksanaan).

KH Muslih berjasa membela dan mempertahankan negara dari cengkraman penjajah. Saat menjadi anggota Laskar Hizbullah, beliau terlibat dalam mengusir penjajah Belanda dan Jepang. Beliau berlatih kemiliteran bersama KH Abdullah Abbas (Buntet Cirebon) dalam satu regu di Bekasi Jabar dan menjadi komando pasukan sabillah yang beranggotakan para kiai di wilayah Demak Selatan atau front Semarang wilayah Tenggara.

Selain aktif sebagi pengurus Jami’iyyah Thoriqoh Mu’tabarah Indonesia, KH Muslih banyak berjasa mendirikan madrasah dan sekolah Futuhiyyah, Madrasah Aliyah Persiapan FHI UNNU Mranggen, Demak, memperluas pesantren dan lain sebaginya. Pada masa mudanya, KH Muslih pernah menjadi Laskar Hizbullah Mranggen dan pengurus GP.Ansor Mranggen. Lembaga pendidikan Futuhiyyah, baik formal maupun informal, sangat dikenal dikalangan masyarakat sekitar. Setiap menjelang penerimaan siswa baru, Masyarakat berbondong-bondong mendaftarkan anaknya di sekolah tersebut.

Penulis : HM Adib Fathoni, dosen FISIP UIN Walisongo Semarang.

Sumber : SUARA MERDEKA, (7/12/2018)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar