Belajar Tasawuf pada Syekh Abdul Fatah Qudais Al-Yamani (Catatan Muhadhoroh) - Pondok Pesantren Futuhiyyah

Breaking

Random posts

Kamis, 04 April 2019

Belajar Tasawuf pada Syekh Abdul Fatah Qudais Al-Yamani (Catatan Muhadhoroh)



Oleh Moh. Salapudin

Syekh Abdul Fatah Qudais Al-Yamani Rabu (3/4) sore kemarin menjadi pembicara inti dalam sebuah muhadhoroh di Aula Yayasan Futuhiyyah di Jalan Suburan Mranggen Demak. Muhadhoroh yang dihadiri para kiai, mursyid tarekat, dan santri ini mengambil tema “Ahlussunah wal Jama’ah dalam Perspektif Tasawuf” (Manhaj Ahlissunah wal Jama’ah fi at-Tashowuf”.

Secara etimologi tasawuf berasal dari kata shafa yang berarti suci atau jernih. Dikatakan demikian karena ahli tasawuf adalah orang yang hatinya jernih. Ada juga yang mengatakan bahwa tasawuf dinisbatkan pada para sahabat nabi yang tinggal di halaman masjid (ahli shuffah). Ada pula yang mengemukakan bahwa tasawuf dari bahasa Yunani (shopia) yang berarti hikmah. Yang terakhir, ada yang berpendapat bahwa tasawuf berasal dari kata shuf (bulu domba).

Bulu domba di masa itu adalah pakaian yang paling rendah. Para ahli tasawuf adalah orang yang zuhud, karena itu mereka mengenakan pakaian dari bulu domba. Dengan demikian, menurut Syekh Abdul Fatah Qudais pendapat terakhir ini adalah pendapat yang paling kuat.

Secara terminologi, tasawuf adalah adalah ilmu untuk membersihkan diri manusia agar bisa mengenal Allah. Ulama tasawuf, oleh karena itu, adalah ulama yang membersihkan hati santrinya agar bisa sampai pada Allah. Bila seseorang telah bersih hatinya, maka ia akan mendapat cahaya (nur) dari Allah.

Butuh guru

Orang yang berjalan menuju Allah (salik) membutuhkan guru (syekh). Syekh Abdul Fatah mengibaratkan guru sebagai penunjuk jalan. Penunjuk jalan adalah orang yang tahu medan jalan: mana jalan yang bagus; mana jalan yang cepat; mana jalan yang tidak ada hambatan; mana jalan yang tidak ada bahaya; dan sebagainya.

Bila untuk menempuh perjalanan di dunia saja butuh penunjuk jalan, apalagi perjalanan menuju Allah? Padahal, perjalanan menuju Allah banyak sekali penghalangnya. Banyak setan yang siap menghadang dan hawa nafsu yang memburu. Di sinilah urgensi seorang syekh bagi salik, ia bertujuan menyampaikan salik pada Allah melalui jalan yang benar dengan selamat.

Seorang syekh juga bisa membantu murid-muridnya dengan ruh. Dalam dunia tasawuf, apa yang disebut ruh itu sangat penting. Karena itu, kita harus senantias menyambung ruh dengan syekh kita.

Tarekat

Tarekat adalah metode pendidikan ruh. Dengan demikian, tarekat Qodiriyah adalah metode pendidikan ruh ala Syekh Abdul Qodir Jailani. Orang yang menisbatkan diri pada suatu tarekat itu baik. Karena inti dari tarekat adalah mensucikan diri.

Setiap orang Islam wajib mendidik dan mensucikan dirinya. Kenapa? Karena sebagaimana kita tahu, di dalam hati kita bersarang banyak penyakit seperti sombong, riya, ujub, iri, dengki. Dan, orang yang ingin mensucikan diri harus datang pada syekh.

Selain penyakit hati, penyakit pikiran juga harus dibersihkan. Pikiran kita harus senantiasa digunakan untuk memikirkan hal-hal yang baik, yang mendekatkan pada Allah. Tidak boleh memikirkan hal-hal yang buruk.

Meski mengikat diri pada suatu tarekat itu baik, namun pada kenyataannya orang yang mengikat diri dengan tarekat itu ada dua. Pertama, orang yang bertarekat dengan istikamah; mengikuti para ulama dulu. Jenis yang pertama ini adalah jenis yang baik. Kedua, orang yang hanya menisbatkan diri pada tarekat, namun tidak istikamah menjalankan amalan-amalannya.

Di antara jenis yang kedua itu ada yang tidak istikamah namun merasa telah sampai pada kedudukan tertentu. Ada pula yang ikut tarekat, tidak istikamah, dan keikutsertannya pada tarekat bertujuan agar mendapat tempat di hati manusia. Dengan mendapat tempat di hati manusia, ia mendapat kemudahan-kemudahan. Ada pula, yang ikut tarekat namun agar dapat menikmati fasilitas-fasilitasnya saja.

Pelajaran dari kisah Syekh Abdul Qodir

Diceritakan, Syekh Abdul Qodir Al-Jailany pernah dalam suatu perjalanan tiba-tiba ada cahaya yang luar biasa (sangat terang). Cahaya itu berkata pada Syekh Abdul Qodir.

“Wahai Abdul Qodir, aku telah jatuhkan semua kewajiban-kewajiban kamu. (sekarang sudah tidak ada kewajiban-kewajiban seperti shalat bagaimu. Bahkan hal-hal yang diharamkan juga telah dihalalakan).”

“Enyahlah kau, setan!” Jawab Syekh Abdul Qodir.

Seketika cahaya itu pudar. “Mengapa engkau tahu kalau kami setan?” Setan bertanya.

“Sesungguhnya Allah tidak memerintahkan kejelekan (Allah tidak mungkin menghalalkan hal-hal yang haram.)” Jawab Syekh Abdul Qodir.

Apa kamu tahu, kata setan, dengan jebakan semacam ini kami berhasil menjerumuskan tujuh puluh ahli ibadah.

Cerita Syekh Abdul Qodir di atas memberi pelajaran bahwa tasawuf harus sesuai dengan syariat Allah. Amalan tasawuf, dengan demikian, harus sesuai dengan Al-Qur’an dan Hadis.

Pentingnya bertasawuf

Bertasawuf itu sangat penting. Imam Malik berkata, "Barangsiapa yang bertasawuf tetapi mengabaikan fikih maka ia telah zindiq. Dan barangsiapa yang menjadi ahli fikih namun tidak bertasawuf maka ia telah fasik.” Mengapa demikian? Karena orang yang tahu mendalam tentang fikih tetapi tidak bertasawuf dia bisa “ngakali” hukum, mislanya.

Kita harus menggabungkan dua-duanya, antara fikih dan tasawuf. Sebagai orang ahlussunah wal jamaah kita juga harus percaya dengan yang namanya karomah. Karomah itu pemberian Allah, bukan kita yang cari. Adapaun karomah yang paling tinggi adalah istikomah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar