Nasihat Kiai Hanif Muslih dalam Memilih Presiden - Pondok Pesantren Futuhiyyah

Breaking

Random posts

Rabu, 03 April 2019

Nasihat Kiai Hanif Muslih dalam Memilih Presiden

KH. Muhammad Hanif Muslih (kanan) dan KH. Ma'ruf Amin (kiri)


Pengasuh Pondok Pesantren Futuhiyyah Mranggen Demak, KH. Muhammad Hanif Muslih melalui akun facebooknya, Muhammad Hanif Muslih, memberi nasihat seputar pemilihan presiden (pilpres) pada Selasa (2/4) kemarin. Hingga tulisan ini dimuat, status itu telah disukai lebih dari 200 pengguna facebook dan dibagikan 81 kali.

Menurut Kiai Hanif Muslih, dalam memilih presiden kita tidak boleh melihat hanya dari figur dan visi misinya saja.

Memilih presiden jangan hanya sekedar memilihi figurnya saja. Juga jangan memilih visi misinya saja. Tetapi harus diperhatikan dengan cermat dan bijaksana," tulisnya.

Beliau menyampaikan setidaknya ada empat hal yang harus diperhatikan dengan super cermat dan bijaksana.

Presiden mempunyai hak prerogatif dalam memilih pembantu-pembantu dekatnya (seperti) menteri,” tulis Kiai Hanif Muslih di poin pertama.

Menteri yang diangkat, lanjutnya di poin kedua, biasanya dari partai koalisi dan yang dipandang perlu oleh presiden, baik dari organisasi, massa atau akademisi. Sangat mustahil diangkat dari partai oposisi.

Begitu juga menteri akan memilih pembantunya dari para dirjen yang bisa dianggap bekerjasama dengannya,” demikian di poin ketiga beliau menulis.

Di poin keempat, Ketua Majelis Tarekat Qodiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN) Mranggen itu mengingatkan bahwa menteri dan dirjen memiliki policy (dapat memutuskan kebijakan yang strategis, red.).

Di akhir status beliau mengajak kita untuk bertanya pada hati kita sendiri.

“Monggo digaleh, mari dipikir dengan cermat dan seksama, dengan hati jernih tanpa emosi, kalau kita sebagai orang NU tulen sejak lahir dan berharap matipun tetap NU, kira-kira siapa yang akan kita pilih, kedua paslon dan partai pengusungnya sudah jelas, sudah kasat mata, semua sudah transparan, kita akan memilih siapa? Tentu memilih yang dapat membawa manfaat dan berkah pada NU atau sebaliknya, moggo istafti qolbaka (tanya pada hatimu, red.), karena hati tidak pernah ingkar janji!”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar