Kisah Kiai Hanif Muslih Kabur dari Rumah - Pondok Pesantren Futuhiyyah

Breaking

Random posts

Sabtu, 18 Mei 2019

Kisah Kiai Hanif Muslih Kabur dari Rumah



Di tengah-tengah pengajian Tafsir Jalalain di awal Ramadan beberapa waktu lalu, Pengasuh Pondok Pesantren Futuhiyyah sekaligus mursyid tarekat Qodiriyah wa Naqsyabandiyah Mranggen, Kiai Hanif Muslih, mengisahkan sedikit perjalanan hidupnya. Beliau mengaku pernah kabur dari rumah.

Beliau tidak menyebut secara spesifik kapan peristiwa itu terjadi. “Yang jelas di awal tahun 2000-an,” ujar beliau. Sebab saat itu, tutur beliau, Kiai Ahmad Muthohar dan Kiai Luthfi Hakim masih sugeng (hidup). (Kiai Ahmad Muthohar wafat pada tahun 2005 beberapa bulan setelah wafatnya Kiai Luthfi Hakim di penghujung 2004).

Lalu apa yang membuat Kiai Hanif Muslih kabur dari rumah?

Di awal tahun 2000-an, seperti diinformasikan sejumlah orang, di Demak, termasuk Mranggen, mewabah apa yang disebut sebagai penyakit tekek (Jawa: cekik). Jenis penyakit ini tidak seperti penyakit lainnya karena penderitanya akan merasa seolah-olah ada yang mencekik lehernya. Tentu ada kaitannya dengan hal gaib.

Pada saat itu, ada orang yang terkena penyakit tekek yang dikisahkan sudah sangat parah. Keluarganya sudah beusaha ke berbagai dokter, dukun, dan tabib. Namun usaha mereka belum membuahkan hasil sehingga akhirnya di antara keluarganya ada yang sowan ke Kiai Hanif Muslih.

Maksud sowan dia adalah untuk meminta doa pada Kiai Hanif Muslih agar saudaranya yang terkena penyakit tekek segera sembuh. Kiai Hanif Muslih pada mulanya menolak dengan halus permintaan orang itu. Namun orang itu merengek. Bahkan ternyata orang yang kena penyakit tekek itu sudah siap di depan rumah Kiai Hanif Muslih bersama anggota keluarganya yang lain di sebuah mobil.

“Lihat Gus, dia sudah di depan, masa Njenengan tega..,” demikian tamu itu merengek.

Kiai Hanif Muslih tidak tega dan pada akhirnya mendoakan orang itu dan memberikan air minum yang sudah dibacakan doa.

Setelah waktu berjalan, orang itu memberi kabar bahwa setelah didoakan dan meminum air yang diberi oleh Kiai Hanif Muslih, orang itu sembuh. Berita itu kemudian menyebar ke mana-mana sehingga banyak orang sakit dan butuh hajat yang minta doa pada Kiai Hanif Muslih. Tentu dengan harapan agar penyakitnya segera sembuh dan hajatnya segera tercapai.

Keadaan demikian ternyata membuat Kiai Hanif Muslih tidak nyaman. Beliau selalu teringat pesan ayahandanya, Kiai Muslih Abdurrahman, agar menjauhi praktik-praktik perdukunan. Meski demikian, selama beliau ada di rumah, para tamu yang minta doa tetap berdatangan. Akhirnya, untuk menyiasati hal itu Kiai Hanif Muslih “kabur” dari rumah.

“Mi, ayo kita ke Jakarta!” ajak beliau pada istrinya.

Umi Fashihah Ali, istrinya, sontak kaget. Tidak ada hujan tidak ada angin kok tiba-tiba suaminya mengajak ke Jakarta.

“Acara apa Bah?” Umi Shihah bertanya.

“Sudah, pokoknya ke Jakarta. Soal mau apa dan nginep di mana itu urusan belakang,” jawab Kiai Hanif Muslih.

Kiai Hanif Muslih dan istrinya kemudian benar-benar kabur ke Jakarta selama beberapa hari. Itu dilakukan semata-mata untuk menghindari stigma masyarakat bahwa beliau adalah seorang dukun sehingga orang lebih mengenal Kiai Hanif Muslih sebagai seorang dukun ketimbang putra seorang kiai.

Padahal, kata Kiai Hanif Muslih, orang yang terkena penyakit tekek itu sembuh bukan karena doa atau air minum yang diberinya. “Itu yang menyembuhkan Allah dan kebetulan kok ya setelah meminum air itu,” ujar beliau.

Faktanya, sampai sekarang tidak sedikit tamu yang datang layaknya pada seorang dukun. Kiai Hanif Muslih biasanya akan mengarahkan tamu itu pada kiai lain yang memang dikenal memiliki ilmu perdukunan. (Moh. Salapudin)    

Tidak ada komentar:

Posting Komentar