Ingin Lebih Dekat Masyarakat, Kejari Demak Adakan Penyuluhan di Futuhiyyah - Pondok Pesantren Futuhiyyah

Breaking

Random posts

Rabu, 12 Februari 2020

Ingin Lebih Dekat Masyarakat, Kejari Demak Adakan Penyuluhan di Futuhiyyah



Kejaksaan Negeri (Kejari) Kab. Demak mengadakan penyuluhan dan sosialisasi hukum di Pondok Pesantren Futuhiyyah dalam program bertajuk "Jaksa Masuk Sekolah/Pesantren" pada Rabu (12/02/2020).

Hadir sebagai pemateri  Kasi Pidana Khusus Kejari Kab. Demak, Intan lasmani Susanto. Delapan puluh orang yang terdiri dari siswa di bawah naungan Yayasan Futuhiyyah, beberapa santri serta sejumlah guru menjadi peserta pada acara tersebut.

Pada kesempatan itu Intan Lasmani Susanto  mengatakan, tujuan memilih pesantren sebagai objek penyuluhan dikarenakan pesantren memiliki peran dalam menyukseskan pembangunan di masyarakat.

"Pesantren itu luar biasa, dalam menyukseskan pembangunan titik pusatnya kehidupan dan perekonomian itu ada di pesantren, dikarenakan pesantren itu lebih dekat dengan masyarakat," ucapnya.

Ia juga berharap pesantren menjadi agen bagi kejaksaan.

"Saya berharap bantuan Pesantren untuk mengawal pembangunan di daerah masing-masing dan melaporkan apabila ada pembangunan yang tidak beres," tambahnya.

Acara yang dikemas dalam dialog interaktif ini berlangsung dengan penuh antusias. Para peserta mengajukan sejumlah pertanyaan terkait hukum yang berkenaan dengan kegiatan sehari-hari di sekolah.

Bilqis Sausan, siswi Madrasah Aliyah Futuhiyyah 2 bertanya mengenai kasus pembulian yang marak terjadi di sekolah-sekolah.

“Bagaimana menyikapi kasus-kasus itu (pembulian, red.)?”

Menjawab pertanyaa itu, Intan menekankan perlunya pengawasan ketat dari seluruh stakeholders di sekolah. Menurutnya, pembulian tidak boleh dinggap remeh karena sangat berpengaruh terhadap keadaan mental para korbannya. Dalam hal ini, masih menurut Intan, peran guru BK sangat diperlukan.

“Jangan sampai ada kesan bahwa ruangan BK di sekolah itu ruangan angker yang tidak bersahabat bagi para siswa. Guru BK harus menjadi sahabat siswa,” ujarnya.

Bila perlu, tambah Intan, sekolah menyediakan pusat pelaporan bagi mereka yang menjadi korban perundungan.

Lain dengan Bilqis, siswa Madrasah Aliyah Futuhiyyah 1, Ali Fikri bertanya mengenai pembulian yang terjadi di dunia maya. Menurutnya, selain di dunia nyata, pembulian juga kerap terjadi di dunia maya seperti media sosial.

“Bagaimana menghadapi bully-bully netizen di media sosial?” Tanya Ali.

“Kita tidak usah menghabiskan waktu untuk meladeni mereka (netizen, red.),” jawabnya.

“Lebih baik,” tuturnya “kita melakukan aktivitas-aktivitas bermanfaat seperti membaca buku.”     

Kepala Pondok Pesantren Futuhiyyah, KH Helmi Wafa, dalam sambutannya berharap dengan adanya penyuluhan ini para siswa, santri, dan guru dapat mengetahi masalah hukum.

"Dengan adanya sosialisasi ini saya menginginkan para siswa dan guru dapan melek dan taat hukum, terutama mangenai perlindungan anak dan hukum di dalam pendidikan," tuturnya.

Adi Firmanysah, santri Pondok Pesantren Futuhiyyah, berharap kegiatan ini berdampak positif bagi para santri.

“Tentu kita ingin setelah ini ada santri yang menjadi jaksa,” ujar Adi.

“Bila perlu ada jalur affirmasi khusus untuk santri yang ingin mendaftarkan diri sebagai jaksa atau pegawai kejaksaan,” pungkasnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar