Kekaguman Kiai Fadholan Musyaffa pada Kiai Muslih Mranggen - Pondok Pesantren Futuhiyyah

Breaking

Random posts

Rabu, 19 Februari 2020

Kekaguman Kiai Fadholan Musyaffa pada Kiai Muslih Mranggen

Kitab An-Nur Al-Burhany karya Kiai Muslih Mranggen

Selasa (18/2) kemarin saya bersama Kang Rizal sowan ke Ndalem Kiai Fadlolan Musyaffa di Pondok Pesantren Fadhlul Fadhlan Mijen, Semarang. Selama sowan, kami mendapat banyak ilmu dan cerita penuh hikmah dari beliau. Di antara apa yang beliau utarakan kemarin, yang ingin saya bagikan di sini adalah kekaguman beliau pada Kiai Muslih Mranggen.

Menurut Kiai Fadholan, Kiai Muslih adalah di antara sedikit kiai di Indonesia yang memiliki kitab sangat manfaat. Bukti kemanfaatan itu adalah kitab tersebut digunakan oleh hampir semua umat Islam di Indonesia, khususnya orang-orang NU. Kitab itu adalah kitab An-Nur Al-Burhany yang berisi manaqib Syekh Abdul Qodir Jailani.

Menurut beliau, Kiai Muslih bisa memiliki kitab yang sedemikian bermanfaat setidaknya karena dua hal.

“Yang pertama bisa karena keikhlasannya,” tutur beliau.

Kiai-kiai sepuh, lanjut Kiai Fadholan, memiliki keikhlasan yang luar biasa dalam mengarang kitab. “Sehingga kitabnya dibaca jutaan umat Islam, menjadi amal jariyah,” tambah beliau.

“Kitab Jurumiyah itu oleh pengarangnya dibuang ke laut, tetapi pada akhirnya juga kembali ke mejanya,” cerita beliau. “Bahkan,” ujar beliau, “kitab itu dipakai hampir di seluruh pondok pesantren.”

Menurut Kiai Fadholan, itu semua adalah karena keikhlasan.

“Yang kedua bisa karena kedekatannya secara ruhani,” tambah beliau.

Kiai yang pernah menjadi Rois Syuriah PCINU Mesir itu meyakini bahwa Kiai Muslih sangat sering bertawasul kepada Kanjeng Nabi dan kepada Syekh Abdul Qodir Jailani. Beliau bahkan meyakini kalau Kiai Muslih dapat berkomunikasi dengan Syekh Abdul Qodir Jailani.

“Wali-wali itu terkadang bisa duduk bersama, rapat, dengan Syekh Abdul Qodir,” tandas beliau.

Menurut Kiai Fadholan, karena keikhlasan dan kedekatan ruhani dengan Syekh Abdul Qodir Jailani itulah, kitab An-Nur Al-Burhany menjadi kitab yang sangat bermanfaat dan barokah.

Apa yang diutarakan Kiai Fadholan memberi pesan kepada kita, khususnya saya sebagai santri Futuhiyyah untuk senantiasa belajar ikhlas, ikhlas, dan ikhlas. Menjalin hubungan ruhani, silaturruh, dengan Kanjeng Nabi, Syekh Abdul Qodir Jailani, dan termasuk dengan masyayikh-masyayikh Futuhiyyah juga harus terus diupayakan. Wallahu A’lam. (Moh. Salapudin) 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar