Lempit Bumi Mbah Mad Mranggen - Pondok Pesantren Futuhiyyah

Breaking

Random posts

Kamis, 20 Februari 2020

Lempit Bumi Mbah Mad Mranggen



Oleh Miqdad Sya'roni
Alumni MA Futuhiyyah-1 Mranggen Tahun 2007-2010

Mbah Mad, begitu sapaan Mbah Ahmad Muthohar bin Abdurrahman Qosidil Haq Al Maronji. Adik dari Mbah Muslih Mranggen, Pakleknya Kiai Muhammad Hanif Muslih Pengasuh Pondok Pesantren Futuhiyyah Mranggen Demak Jawa Tengah.

Dikisahkan, pernah suatu ketika di Pondok Pesantren Futuhiyyah Mranggen, sudah menjadi rahasia umum kalau jamaah sholat fardhu itu paling terakhir iqomahnya dan lama wiridannya.

Tibalah waktu sholat Maghrib setelah adzan dan menunggu beberapa lama, Mbah Mad rawuh segera Kang Muadzin Iqomah. Lanjut sholat Maghrib dan wiridan sampai selesai.

Sehingga menjelang masuk waktu isya' Mbah Mad memanggil Supirnya, "Kang ayo mangkat budal nang Jawa Timur, ngko isya'an neng Masjid Gresik (Kang ayo berangkat ke Jawa Timur, nanti sholat isya' di masjid Gresik Indonesia.red) " kata Mbah Mad, lalu di jawabi Kang Supir, "Nggeh Mbah" sambil bergegas nyetater mobilnya yang sudah ada di depan Ndalem Mbah Mad.

"Ojo lingak linguk, fokus madep ngerep ya, karo moco laa haula walaquwwata illa billah (Jangan lihat kanan kiri, fokus saja pada perjalanan menghapap ke depan baca di lisan laa haula walaquwwata illa billah) " kata Mbah Mad yang juga pengasuh Pondok Pesantren Darul Ma'wa, masih satu komplek dengan Futuhiyyah Mranggen Demak.

"Nggeh Mbah" jawab kang supir.

Beberapa saat kemudian ternyata sudah sampai di jalan raya di Gresik Jawa Timur, sampailah pada salah satu masjid di Kabupaten Gresik. Lalu Mbah Mad bergegas untuk ikut jamaah di sana karena sesampainya di sana tepat pas Muadzin mengumandangkan iqomah.

Ya begitulah, cara para Kyai dengan keramatnya sehingga bumi bisa di lempit, sehingga kita kenal ilmu lempit bumi.

Ini merupakan keramat para ulama' yang memiliki keyakinan yang kuat sehingga apa yang dilakukan atas ijin dari Allah SWT maka terjadilah.

Sama halnya dulu seperti para Walisongo dalam memperjuangkan dan mengislamkan penduduk bumi tanah Jawa. Sering mendengar kisah para Walisongo yang menyebar di wilayahnya masing-masing, ada di Demak, Ampel, Gunung Jati Cirebon dan seterusnya. Ketika ada musyawarah para wali, dimana pun pasti ketemu dan dalam tempo yang singkat, seakan jarak nya tidak jauh.

Pesan Mbah Mad kepada Kang Supir selama perjalanan, tidak boleh macam macam kecuali fokus pandangan perjalanan di sertai dzikir billisan,  "Laa Haula Walaquwwata Illa Billah" Maka sampailah pada tujuan atau tepat pada sasaran.

  من يعتقد ينتفع

"Jadilah tiap hari tambah ilmu" pesan singkat melalui chat WhatsApp dari Yi Hafidz, yang seusai mentashih kisah Mbah Mad yang penulis ajukan.

Makam Mbah Ahmad Muthohar berada di komplek makam keluarga yang ada di Pemakaman Suburan Mranggen Demak Jawa Tengah, di sebelah selatan Masjid Futuhiyyah atau tepat nya samping selatan MTs. Futuhiyyah 1 Mranggen Demak, dan depan SMP Futuhiyyah Mranggen.

Demikian cerita kisah Mbah Mad Mranggen. Kita sebagai santri yang ikut Ulama', Habaib dan Kyai guru. Semoga selalu mengalir keberkahan dan menjadi manfaat bagi lingkungan, amin. Wallahu 'Alam  Bishowab.

*Cerita di atas telah ditashih oleh KH. Muhammad Hafidz (Pengasuh Pondok Pesantren Attanwir Penggaron Kidul Pedurungan Semarang dan Assatidz di MA Futuhiyyah 1 Mranggen Demak)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar