Perjumpaan Dua Mursyid Tarekat - Pondok Pesantren Futuhiyyah

Breaking

Random posts

Minggu, 09 Februari 2020

Perjumpaan Dua Mursyid Tarekat


Mursyid Tarekat Idrisyyah sekaligus Pengasuh Pesantren Al-Idrisiyyah Manonjaya, Tasikmalaya, Jawa Barat, Syekh Muhammad Fathurrahman beserta rombongan bersilaturahim ke Mursyid Tarekat Qodiriyah Wa Naqsyabandiyah sekaligus Pengasuh Pesantren Futuhiyyah Mranggen Demak, KH. Muhammad Hanif Muslih Sabtu (8/2). Silaturahim yang berlangsung selama 2 jam itu merupakan perjumpaan dua mursyid tarekat tersebut untuk yang pertama kali.

Syekh Fathurrahman menyampaikan bahwa tujuan silaturahim itu adalah agar terjalin hubungan yang erat antara Al-Idrisiyyah dengan Futuhiyyah. Menurutnya ada kesamaan antara Al-Idrisiyyah Manonjaya dengan Futuhiyyah Mranggen, yakni sama-sama memiliki tarekat dan sama-sama mengelola Ma’had Aly.

Seperti diketahui, Al-Idrisiyyah merupakan salah satu pusat penyebaran Tarekat Idrisiyyah di Jawa Barat. Tarekat Idrisiyyah merupakan salah satu tarekat mu’tabarah (tarekat yang sanadnya bersambung sampai pada Rasulullah dan oleh karenanya boleh diamalkan) yang berkembang di Indonesia. Al-Idrisiyyah juga mengelola Ma’had Aly (pendidikan pesantren setara S1/S2 yang legalitasnya di bawah naungan Kementerian Agama) dengan jurusan Tasawuf wa Thoriqatuhu.

Setali tiga uang dengan Al-Idrisiyyah, Futuhiyyah juga pesantren yang merupakan basis penyebaran salah satu tarekat mu’tabarah, yakni Tarekat Qodiriyah wa Naqsyabandiyah. Futuhiyyah juga memiliki Ma’had Aly dengan takhasus Al-Qur’an wa Ulumuhu.

Kesamaan itulah yang mendasari silaturahim Syekh Fathurrahman ke Futuhiyyah. 
  
Selain itu, menurutnya, silaturahim, berkunjung satu sama lain, dan saling menimba ilmu antarsatu kiai dengan kiai lain diakui merupakan hal yang sangat penting. Terlebih di zaman media sosial seperti sekarang ini.

“Dengan belajar dan mendukung satu sama lain tugas membimbing umat semoga menjadi lebih mudah,” harapnya.

Dalam silaturahim itu beliau bersyukur karena tarekat tidak dibawa-bawa ke dalam urusan politik. Menurutnya, politik itu sesaat sedangkan tarekat adalah selamanya.

“Pilpres itu paling lima tahun, sebentar. Rugi kalau tarekat ikut berpolitik,” ujarnya.

Beliau menyesalkan sebagaian orang yang masih menganggap sesat tarekat.

“Semua tarekat mu’tabarah itu ber-manhaj wasathy (moderat; tidak ekstrem kanan dan tidak ekstrem kiri, red.)”

Beliau juga menyayangkan orang yang janggal melihat orang berdzikir sambil menangis.

“Orang nangis berdzikir dianggap aneh, sedangkan orang nangis kena rampok tidak dianggap aneh,” tuturnya.

Selaku tuan rumah, KH. Muhammad Hanif Muslih bergembira dan merasa sangat terhormat mendapat kunjungan silaturahim dari Syekh Fathurrahman.

Di hadapan para tamunya beliau bercerita tentang tarekat Qodoriyah wa Naqsyabandiyah Mranggen dan sejarah Pesantren Futuhiyyah dari masa ke masa, termasuk sejarah Ma’had Aly Nurul Burhany Pesantren Futuhiyyah.

Menurut beliau, pendirian Ma’had Aly di Futuhiyyah merupakan cita-cita beliau sejak lama. Usaha-usaha untuk mendirikan pun sudah dilakukan, namun baru tahun 2018 cita-cita itu terwujud.

“Pada mulanya saya ingin mendirikan Madrosatul Qur’an,” tuturnya.

Keinginan tersebut diakui beliau karena miris melihat banyak orang yang menghafal Al-Qur’an tetapi tidak tahu isinya. Alasan itu pulalah yang mendasari berdirinya Ma’had Aly Nurul Burhany yang mengambil takhasus Al-Qur’an wa Ulumuhu. Dengan banyaknya pondok Al-Qur’an, beliau berharap kampung Suburan, kampung di mana Futuhiyyah berada, menjadi kampung Al-Qur’an.

Abah Hanif, demikian beliau biasa dipanggil santri-santrinya, berharap silaturahim tersebut bukan hanya silaturahim dzahiriyyah, tetapi juga silaturahim bathiniyyah, ruhiyyah, dari sekarang sampai di akhirat, sampai di Surga.

“Insyaallah kapan-kapan saya akan silaturahim ke Manonjaya, sudah lama saya tidak silaturahim ke Jawa Barat. Insyaallah,” ucap beliau di akhir pertemuan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar