Syawal 1441 H; dari Corona hingga Pesan Hilal untuk Persatuan Umat - Pondok Pesantren Futuhiyyah

Breaking

Random posts

Jumat, 22 Mei 2020

Syawal 1441 H; dari Corona hingga Pesan Hilal untuk Persatuan Umat

Sumber: BMKG

Oleh Arif Fathur Rahman

Pengurus Pondok Pesantren Futuhiyyah

Tak terasa bulan Ramadan sebentar lagi akan usai. Ibadah puasa yang dilaksanakan selama sebulan penuh akan segera ditutup dengan agenda tahunan yang masyhur di Indonesia disebut dengan istilah lebaran. Dalam bahasa Jawa kata lebaran berasal dari kata "wis bar" yang berarti sudah selesai. Yaitu selesai menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadan dan "bar" sendiri adalah bentuk pendek dari kata "lebar" dalam bahasa jawa yang artinya selesai.

Usut punya usut, istilah lebaran ini dulu dipopulerkan oleh Walisongo yang menyadur dari istilah umat Hindu yang artinya hampir sama yaitu "selesai". Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia istilah lebaran berarti hari raya umat Islam yang jatuh pada tanggal 1 Syawal setelah selesai menjalankan ibadah puasa selama sebulan, atau dalam Islam disebut;  Idulfitri.

Lebaran tahun ini yaitu 1 Syawal 1441 H akan terasa sangat unik, karena idulfitri tahun ini terjadi ketika seluruh dunia sedang dilanda pandemi global yaitu mewabahnya virus Corona (Covid-19). Sehingga Pemerintahan  Indonesia bahkan Dunia melarang warganya untuk melaksanakan ibadah sholat i'd secara berjamaah di masjid maupun di lapangan yang diganti dengan sholat i'd di rumah secara munfaridan.

Seperti yang kita ketahui hal ini dilakukan untuk meminimalisir penularan virus Corona tersebut. Secara fiqih imbauan tersebut sudah jelas kebolehannya, seperti yang dijelaskan Imam Nawawi dalam kitab Majmu' bahwa dalam Madzhab Syafi'iyyah diperbolehkan sholat i'd secara munfaridan di rumah, dengan tatacara seperti biasa tanpa disertai dengan khotbah. Apalagi secara tegas Haiah Kibaril Ulama' Al-Azhar Mesir juga turut memberikan fatwa agar seluruh umat Islam di dunia menunaikan ibadah shalat i'd di rumah saja.

Tradisi Pesantren juga turut merasakan dampak dari pandemi Corona tersebut, di mana tradisi sowan (silaturahmi) ke masyayikh ketika lebaran kemungkinan juga akan ditiadakan. Sudah banyak kiai pesantren yang memberikan imbauan kepada santrinya untuk tidak sowan bersama keluarga ketika lebaran nanti.

Hal ini bukan untuk memutus silaturahmi, tapi lebih menjadi langkah preventif dari madhorot yang lebih banyak dari manfaat bersilaturahmi. Di kalangan Pesantren sudah masyhur kaidah "Darul mafasid muqoddamun a'la jalbil masholih" (menghindari kemafsadatan lebih daidahulukan daripada mencari kemaslahatan).

Tapi di balik ujian yang kita hadapi sekarang ini, ada sedikit angin segar yang mungkin bisa menjadi berita bahagia bagi umat Muslim di Indonesia. Yaitu mengenai "problematika tahunan" tentang kapan jatuhnya hari raya idulfitri 1 Syawal 1441 H. Seperti yang  kita ketahui bahwa di Indonesia sering terjadi perbedaan pendapat dalam penentuan awal bulan Hijriyah  antara Nahdhatul Ulama dengan Muhamadiyyah.

Dua organisasi besar ini ibarat dua kutub magnet yang saling berlawanan jika berbicara mengenai penentuan awal bulan Hijriyah. NU menggunakan madzhab rukyatul hilal, jika hilal (bulan baru) tidak terlihat oleh mata, sekalipun dalam hitungannya tinggi hilal sudah memenuhi kriteria dapat terlihat maka jumlah hari bulan tersebut akan diistikmalkan menjadi 30 hari.

Berbeda dengan Muhamadiyyah yang menggunakan madzhab hisab wujudul hilal, jika dalam perhitungan hilal sudah di atas ufuk sekalipun hilal  tidak dapat  terlihat sama sekali  maka jumlah hari bulan tersebut akan tetap diselesaikan dalam 29 hari. Sebenarnya pemerintah sudah memberikan jalan tengah dengan membuat kriteria imkanur rukyah namun tetap saja solusi kriteria tersebut belum bisa mengakomodir perbedaan dua ormas Islam terbesar di Indonesia tersebut.

Pada idulfitri kali ini, berdasarkan data dari hasil hisab posisi Bulan  untuk hari Jumat, 22 Mei 2020 M/29 Ramadan 1441 H tinggi Hilal berada pada posisi -4° di bawah ufuk dan Ijtimak (konjungsi) akhir Ramadan 1441 H baru terjadi pada hari Sabtu, 23 Mei 2020 M, sekitar tengah malam waktu Indonesia barat.

Dari data perhitungan tersebut dapat dipastikan posisi hilal ketika hari Jumat 22 Mei tidak akan bisa terlihat (rukyah) karena posisi hilal di hari tersebut masih berada di bawah ufuk, pun jika ada yang mengaku berhasil melihat hilal  maka kesaksian orang tersebut akan ditolak.

Maka NU secara pasti akan menyempurnakan bilangan hari Ramadan ini menjadi 30 hari. Sama halnya dengan Muhamadiyah, yang secara jelas menganut madzhab wujudul hilal. Karena posisi Hilal yang di bawah ufuk dan konjungsi belum terjadi maka secara otomatis Muhamadiyah juga akan menyempurnakan hari bulan Ramadan kali ini menjadi 30 hari. Kesimpulannya, baik NU dan Muhamadiyyah untuk bulan Ramadan 1441 H ini akan diistikmalkan menjadi 30 hari, sehingga lebaran akan dirayakan di hari yang sama yaitu Ahad, 24 Mei 2020.

Persamaan merayakan hari raya idulfitri ini seperti pesan persatuan yang Allah SWT berikan untuk umat Muslim di Indonesia lewat perantara makhluk-Nya yang bernama "Hilal". Agar umat Muslim Indonesia bersatu dalam menghadapi ujian wabah Corona. Sehingga di awal bulan Syawal nanti kita bisa menutup bulan suci Ramadan dengan penuh suka cita, bersyukur sehingga menjadikan kita sebagai hamba yang benar-benar a'idin (kembali fitrah) dan faizin (beruntung dunia akhirat). Amin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar