Inarotu Adz-Dzolam fi Aqoidi Al-Awam: Kitab Tauhid Karya Kiai Muslih Mranggen - Pondok Pesantren Futuhiyyah

Breaking

Random posts

Senin, 01 Juni 2020

Inarotu Adz-Dzolam fi Aqoidi Al-Awam: Kitab Tauhid Karya Kiai Muslih Mranggen



Moh. Salapudin
Santri Pondok Pesantren Futuhiyyah

Kiai Muslih Mranggen adalah sosok ulama yang ahli dalam banyak bidang keilmuan (al-mutabahhir). Banyak karya yang lahir dari tangan beliau. Selain dalam bidang tasawuf/tarekat, nahwu, dan fikih, Kiai Muslih juga punya karya dalam bidang ilmu tauhid, yaitu kitab Inarotu Adz-Dzolam fi Aqoidi Al-Awam.

Kitab itu terdiri dari syair berbahasa Arab yang berjumlah 59 bait. Syair-syairnya diberi "makna gandul" (terjemah yang ditulis miring dengan bahasa Arab pegon di bawah teks Arab) oleh Kiai Muslih sehingga memudahkan pembaca. Beliau juga memberikan penjelasan yang cukup detail atas maksud syair yang ditulisnya dalam bentuk tulisan Arab pegon di bawahnya.

Dalam pengantarnya, Kiai Muslih mengutip tiga bait syair dari kitab Jauharu At-Tauhid yang menandaskan bahwa setiap orang mukallaf (Muslim yang telah baligh dan dikenai kewajiban melakukan perintah agama) harus mengetahui Sifat Wajib (sifat yang harus ada), Sifat Muhal (sifat yang mustahil ada), dan Sifat Jaiz (sifat wenang/boleh) bagi Allah dan para rasul-Nya. Beliau juga menukil beberapa kalimat dari Ianatut Thalibin yang menjelaskan pentingnya orangtua mengajarkan ilmu tauhid pada anaknya.

Secara keseluruhan Kiai Muslih membagi pembahasan kitab Inarotu Adz-Dzolam fi Aqoidi Al-Awam ke dalam tujuh bab, yakni “Bab Sifat Wajib dan Mustahil Allah”, “Sifat Jaiz Allah”, “Iftiqhar dan Pembagiannya”, “Laa Ilaha Illallah dan Isyaratnya”, “Sifat Wajib dan Mustahil bagi Rasul”, “Sifat Jaiz Rasul”, dan “Keutamaan Kalimat Tauhid”.

Unik dan Menarik

Salah satu keunikan kitab ini adalah ketika menjelaskan sifat wajib bagi Allah, pengarang sekaligus menjelaskan sifat muhalnya. Kiai Muslih menulis, misalnya, "Awwaluha nafsiyyatun wahiyal wujud//Wadhidduhu al-adamu ghairul maujud" (sifat wajib Allah yang pertama adalah wujud atau ada, sifat muhalnya adalah adam atau tidak ada. Sifat wujud sendiri masuk dalam sifat nafsiyyah atau sifat yang melekat pada zat atau zatiyah).

Cara penjabaran Inarotu Adz-Dzolam berbeda dengan misalnya Nadzam Aqidatul Awam karya Syekh Marzuqi yang menjelaskan secara tuntas sifat wajib terlebih dahulu baru kemudian menjelaskan sifat muhal/mustahil. Dengan menutur sekaligus, pembaca lebih mudah mengingat masing-masing sifat wajib beserta sifat muhalnya sekaligus.

Ada keterangan yang menarik dari Kiai Muslih saat menjelaskan kalimat tauhid (Laa Ilaha Illallah). Kalimat tauhid yang terdiri dari empat kata (La, Ilaha, Illa, Allah), seperti dijelaskan Kiai Muslih, menunjukkan bahwa pusat sifat Allah ada empat, yaitu Kamal (kesempurnaan), Jamal (keindahan), Qahr (kekuasaan), dan Jalal (keagungan). Juga mengisyaratkan kalau kewajiban orang Islam ada empat, yaitu Syariat, Thariqat, Haqiqat, dan Ma'rifat.

Syariat adalah mengetahui hukum Islam (wajib/sunah/haram/makruh) dan melaksanakan perintah serta menjauhi larangan. Thariqat adalah melaksanakan syariat dengan penuh kehati-hatian, yakni melakukan perintah meski sunah dan menjauhi kemakruhan dan syubhat. Haqiqat adalah cara pandang hati terhadap ketuhanan Allah, disertai keyakinan bahwa semua makhluk, yang mewujudkan hanyalah Allah. Ma'rifat adalah kemantapan hati terhadap keberadaan Allah yang memiliki sifat sempurna dan mustahil memiliki sifat kekurangan dengan dalil aqli (nalar) dan naqli (Al-Qur'an dan Hadis).

*Resensi ini sudah dimuat di Suara Merdeka edisi 17 Mei 2020.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar