Kitab Saku Wirid Tsamrotul Qulub - Pondok Pesantren Futuhiyyah

Breaking

Random posts

Rabu, 03 Juni 2020

Kitab Saku Wirid Tsamrotul Qulub

Kitab Saku Tsamrotul Qulub yang dibaca Santri Futuhiyyah bakda Salat Maktubah
(Dokumen Futuhiyyah.online).

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, wirid merupakan zikir yang diucapkan setelah salat atau kutipan-kutipan al-Qur'an yang telah ditetapkan untuk dibaca. Sedangkan wiridan adalah (bacaan) yang akan diwiridkan atau hal mengucapkan wirid.

Wirid dalam bahasa Arab dapat ditemukan pada kata ورد (wirdun) yang memiliki jamak أوراد (awrod) yang berarti bacaan-bacaan zikir atau doa yang dibiasakan dalam membacanya. Pada umumnya wirid juga biasa disebut zikir karena secara istilah, wirid adalah kumpulan zikir.

Dalam tradisi pesantren, wiridan menjadi hal wajib yang ditanamkan kepada santri agar selalu dibaca. Setiap pesantren pun memiliki masing-masing bacaan wiridnya selain dari wirid yang umum dibaca sesudah salat maktubah. Biasanya tergantung pada pilihan yang diijazahkan oleh pengasuh, khusus untuk para santrinya di pesantren.

Di pondok pesantren Futuhiyyah, Mranggen, Demak, pun demikian. Memiliki wiridannya sendiri. Santri Futuhiyyah membaca wirid yang telah ditetapkan oleh pengasuh dalam kitab saku berjudul Tsamrotul Qulub (buah hati). Kitab yang berisi susunan bacaan wirid yang disusun oleh Kiai Muslih bin Abdurrahman dan sebagian dari Kiai Ahmad Muthohar bin Abdurrahman, adiknya.

Kitab saku kecil ini berjumlah 60-an halaman berisi bacaan wirid yang dibaca bakda salat maktubah. Dalam kitab ini menyantumkan Ratibul Haddad yang disusun oleh ulama terkemuka dari Hadramaut, yakni Abdullah bin ‘Alawi bin Muhammad al-Haddad. Ratib atau wirid ini dibaca santri setiap bakda salat ashar. 

Bacaan wirid dalam Tsamrotul Qulub pada bakda salat magrib adalah sholawat, surat Yasin, dan setelah doa lalu membaca syair doa Maliwala. Syair ini merupakan syair yang disusun sendiri oleh Kiai Muslih, yang juga dibaca pada bakda subuh. Syair ini mengandung doa agar diberi ilmu yang bermanfaat, dimudahkan jalan untuk menziarahi Nabi, serta doa dan puja-puji lainnya.

Terdapat juga beberapa doa dan sholawat yang ada dalam Tsamrotul Qulub seperti sholawat Tibbil Qulub dan Sholawat al-Fatih. Ada juga sholawat Nariyyah dan Munjiyyat yang dibaca bakda salat Isya'. Beberapa doa yang tercantum adalah doa awal dan akhir tahun, serta doa khotmil Qur'an.

Selain bacaan wirid di atas, terdalat pula beberapa syair-syair lain. Dalam hal ini bisa diketahui kegemaran Kiai Muslih dan Kiai Muthohar terhadap syair. Baik syair yang disusun sendiri maupun karya para ulama.

Dalam Tsamrotul Qulub terdapat syair yang diketahui ditulis sendiri oleh Kiai Muslih. Selain syair Maliwala yang telah dijelaskan singkat di atas, ada juga syair yang cukup masyhur dan melegenda, yaitu syair doa Saaltu yang terdapat pada paling awal halaman kitab. Doa ini biasa dibaca setiap sebelum belajar di banyak pesantren, sekolah, dan madrasah. Biasanya bergandeng dengan doa Rodhitu. 

Pada halaman selanjutnya ada syair asmaul husna, biasa dibaca pada malam Jum'at tiap sebelum memulai membaca barzanji atau maulid dziba. Lalu syair liziyaroti quburi as-Sholihin, dibaca setiap ziarah ke makam-makam para Auliya dan Ulama. Selanjutnya ada syair Lam Yahtalim. Syair yang mendeskripsikan kemuliaan dan keistimewaan Kanjeng Nabi. Syair yang jika dibaca atau minimal tulisannya saja terdapat dalam suatu rumah, kaifiyyahnya dapat menghindarkan dari pencurian, kebakaran, dan musibah. Di Futuhiyyah dibaca bersama setiap salat bakda isya.

Demikian ringkasan dari isi Tsamrotul Qulub. Sesuai namanya, semoga menjadi buah hati bagi pengamalnya. Sekali lagi setiap pesantren memiliki wiridnya sendiri yang porsinya telah disesuaikan oleh kiainya. Yang tak kalah penting adalah istiqomah dalam melanggengkan bacaan wirid tersebut, lebih-lebih setelah lulus dari pesantren.

Karena dari banyak keutamaan melanggengkan wiridan atau zikir, salah satunya adalah untuk membersihkan hati. Seperti dawuh Syaikh Ali al-Murshify yang dikutip oleh Kiai Muslih dalam kitab al-Futuhat ar-Rabaniyyah, bahwa para ulama sudah tak sanggup untuk menyembuhkan penyakit hati para santri kecuali dengan zikir. Zikir dalam mengilaukan hati, ibarat kerikil yang mengilaukan sebuah tembaga.


Oleh : Muhammad Khozin, santri Futuhiyyah, Mranggen, Demak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar